19
Mar
10

Urgensi Tarbiyah Bagi Muslimah

Seorang ibu ibarat sekolah..

Apabila kamu siapkan dengan baik..

Berarti kamu menyiapkan satu Bangsa yang harum namanya..

Ungkapan seorang pujangga yang mengisyaratkan pentingnya peran seorang wanita untuk kebangkitan suatu bangsa. Begitu juga orang-orang bijak banyak yang mengaitkan keberhasilan para tokoh dan pemimpin dengan peran dan bantuan kaum wanita lewat ungkapan “di balik keberhasilan setiap pembesar ada wanita!”

Luar biasa pentingnya keberadaan kaum wanita ini, sampai tolak ukur kebangkitan suatu bangsa dilihat dari kaum wanita. Bahkan, jika terjadi musibah atau tindak criminal, ada yang mengatakan “coba periksa kaum wanitanya!”. Jika wanita-wanita dalam suatu negeri itu baik, maka bangkitlah suatu negeri. Namun sebaliknya jika wanita dalam suatu negeri itu buruk akhlak dan moralnya, maka tunggulah kehancuran negeri tersebut.

Muslimah..

Dialah yang Allah panggil untuk menutup aurat, dialah yang diperintahkan untuk shalat, zakat, shaum, sebagaimana Allah perintahkan pada kaum muslimin seluruhnya. Dan dia pula yang menjadi rahasia dibalik kebangkitan suatu negeri.

Sejarah islam mencatat banyak kisah para wanita tangguh, diantaranya seperti kisah lembutnya seorang bunda Khadijah yang mendampingi Rasulullah di awal risalah, atau kisah heroiknya Asma binti Abu Bakar ra yang membawa makanan untuk Rasulullah dan Abu Bakar ke gua tsur dalam keadaan hamil dan juga kisah tegarnya seorang Asiah memelihara keimanannya, sementara suaminya adalah manusia paling sombong. Sungguh luar biasa apa yang telah dilakukan oleh wanita-wanita muslimah pencatat sejarah yang menyisakan keimanan yang mendalam dihati orang-orang muslim masa kini dan menjadi bukti bahwa peranan seorang Muslimah sangatlah penting untuk kebangkitan suatu negeri.

Pentingnya tarbiyah bagi wanita muslimah harus berperan dalam mengemban misi peradaban,

check it out :

Tarbiyah merupakan sarana untuk menambah ilmu dan wawasan

Tarbiyah adalah keniscayaan. Bila umat islam menginginkan kejayaannya kembali tiada cara lain selain menempuh jalan ini. Dengannya Rasulullah mendidik para sahabat menemukan kembali jati diri dan kepribadiannya. Tarbiyah kita maknai sebagai proses pembinaan diri dan umat menuju arahan ideal dalam islam. Tentunya dengan tarbiyah ini kita dituntut untuk senantiasa memperbaiki diri dengan terus menimba ilmu dan meningkatkan kualitas amal agar menuju jati diri yang sesuai dengan apa yang diharapkan Allah dan RasulNya dalam mengemban misi peradaban.

Ilmu akan menjadi cahaya dalam melangkah. Dengan ilmu seseorang akan menjadi takut kepada Allah, karena ternyata pengetahuan yang dimiliki hanyalah sedikit bila dibanding dengan ilmu Allah yang teramat luas. Sehingga tumbuhlah ketakutan dan pengagungan yang luar biasa kepada Allah. Ilmu juga akan mengangkat derajat seseorang disisi Allah dan disisi manusia.

“..niscaya Allah akan mengangkat (derajat)orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat..” (QS. Al-Mujadilah : 11).

Jika para muslimah memiliki ilmu dan wawasan yang luas, mereka akan mengetahui bagaimana caranya menjadi hamba Allah, mampu menjadi istri yang terbaik bagi suaminya, mampu memberikan pengajaran dan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, mengetahui jalan-jalan kebaikan sehingga memiliki banyak peluang untuk beramal, serta mampu mengajarkan kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya. Ia pun tidak akan mudah ditipu dan dibohongi oleh pihak-pihak yang ingin menjerumuskannya. Begitulah tarbiyah, bisa mengajarkan berbagai hal pada wanita muslimah, dimana ia sebagai sarana untuk menambah ilmu serta meningkatkan kualitas dan kuantitas amal.

Dengan tarbiyah muslimah dapat mendukung suami dalam dakwah

Salah satu sunnah Rasulullah dalam kehidupan ini adalah menikah. Seorang muslimah berhak menikah dengan orang yang bertakwa yang telah Allah tentukan baginya. Sebagaimana yang dicontohkan bunda Khadijah. Banyak contoh-contoh pernikahan dakwah yang dilakukan oleh shahabiyah terdahulu. Pernikahan yang mengutamakan esensi dakwah baik dalam bingkai pelaksanaannya, prosesnya maupun dalam menempuh mahligai rumah tangga. Tentunya menikah bagi seorang muslimah bukanlah hanya sebatas kebutuhan psikologis dan biologis semata, namun menjadi penopang bagi suami dalam kerjasama kebaikan atau proyek peradaban.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah : 71)

Sepasang suami istri yang mengikat komitmennya dijalan dakwah, harus saling bahu membahu untuk terus istiqomah mengemban misi peradaban islam. Muslimah yang terbina akan memahami posisi dirinya sebagai mitra suami dalam menjalankan tugas dakwah. Ia akan berusaha membantu suami dalam melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar, baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakatnya. Ia akan memahami betul bagaimana menjadi seorang istri yang sholehah, yang senantiasa taat kepada suami dalam kebaikan, menjaga kehormatan dan harta suami, serta menyenangkan bila dipandang. Muslimah yang terbina akan senantiasa mendukung dan memotivasi suami untuk selalu istiqomah di jalan dakwah, dan tidak akan menghalang-halangi suami dalam amal kebaikan. Langkahnya selalu terinspirasi oleh sosok Khadijah, istri Rasulullah yang secara total menyerahkan apa saja yang dimilikinya untuk kepentingan dakwah islam, baik harta, waktu, serta jiwanya.

Tarbiyah adalah jalan bagi seorang muslimah untuk dapat memahami, termotifasi dan membekali agar dapat melaksanakan tugas-tugas dan fungsinya sebagai istri dalam membantu tugas suami dengan baik.

Dengan tarbiyah, muslimah telah memiliki modal untuk sukses mendidik anak

Pemahaman akan nilai strategis seorang anak sebagai investasi pahala yang tak pernah putus bagi orang tuanya, akan memotivasi para muslimah untuk senantiasa memperhatikan dan bersemangat dalam mendidik anak-anaknya menjadi generasi rabbani, saleh dan muslih. Karena anak yang terlahir dalam kandungan seorang ibu, bukanlah hanya sekedar buah pernikahan saja, akan tetapi sebagai penerus generasi estafeta dakwah, yang akan memberatkan bumi ini adalah kalimat Laa Ilaha Ilallah.

Tarbiyatul aulad adalah merupakan kewajiban dan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu, akan tetapi secara fitrah, muslimah akan lebih dekat interaksinya dengan anak-anak. Sementara seorang ayah seringkali lebih banyak berperan pada hal-hal yang bersifat strategis dalam pendidikan anak, adapun manajemennya lebih banyak ada di tangan ibu. Oleh karena itu, seorang muslimah dituntut untuk memiliki dan memahami banyak ilmu, keterampilan dan hal-hal lain terkait dengan pendidikan anak, sehingga anak-anaknya akan menajdi sukses dunia akhirat.

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan , kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur : 21).

ukuran kesuksesan mendidik anak adalah berhasil menjadikan anak-anaknya sebagai penghuni syurga. Adapun kesuksesan-kesuksesan yang sifatnya dunia dan materi hakekatnya itu merupakan aksesoris yang akan mempercantik kesuksesan hakiki menjadi penghuni syurga

Dengan tarbiyah muslimah dapat eksis di tengah masyarakat untuk bekerja sama dan memberdayakan lingkungan masyarakat yang islami

Selain aktif membangun nuansa Rabbani dalam lingkungan keluarga, maka seorang muslimah harus berperan aktif dalam lingkungan masyarakat. Kehadiran muslimah di tengah lingkungan masyarakat harus memberi pengaruh positif, mencetak lukisan indah dan bukan melebur pada warna lukisan yang ada di masyarakat. Untuk itu muslimah, membutuhkan bekal-bekal motivasi, keberanian, kebijaksanaan dan keterampilan. Hal ini insyaallah akan didapatkan dalam proses tarbiyah yang intensif. Disini muslimah akan mampu memerankan dirinya sebagai agent of change ke arah yang lebih baik, tanpa mengorbankan prinsip kebenaran yang telah diyakininya.

Hadist Rasulullah “Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya. Kalau dia tidak mampu, maka cegahlah dengan lisannya. Dan kalau dia tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman.”

Di zaman yang serba terbuka dan modern ini, diperlukan kepekaan dan ketangkasan muslimah dalam berperan aktif memperbaiki moral dan prilaku masyarakat yang sudah jauh dari nilai-nilai islam. Seorang muslimah di tuntut agar bisa berdakwah dan beramar ma’ruf nahyi munkar di tengah lingkungan masyarakat. Keimanan seorang muslimah akan dipertanyakan, jika tidak lagi memiliki kepekaan dan kepedulian sama sekali melihat kemungkaran dan permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya.” (QS. Al-Anfal : 25)

Ayat ini seharusnya menjadi penyemangat bagi para muslimah untuk senantiasa proaktif dalam menyeru masyarakat kepada kebaikan. Karena tidak ada jaminan bagi kita untuk bisa masuk syurga. Namun kita diperintahkan untuk terus bertakwa dan mengajak orang lain dalam kebaikan dan ketakwaan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasr : 18)

“Kecuali orang-orang ang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr : 3)

Luar biasa dahsyat manfaat tarbiyah bagi muslimah. Di dalam aktifitas tarbiyah, muslimah akan mendapatkan banyak motivasi untuk selalu berbuat, berjuang dan melakukan banyak hal untuk peroleh keridhaanNya dalam beribadah dan mengemban misi peradaban islam. Menjadi  ibu ataupun istri yang selalu dinanti dalam kebangkitan umat . Maka tarbiyah bagi muslimah adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya.

Maka….

Sudahkah kita tarbiyah..???

(Al-Intima’ Edisi 002/Akankah Ramadhan Kali Ini Terlewatkan Kembali?/Ilin Ratna Tiara, S. Psi.I)


3 Responses to “Urgensi Tarbiyah Bagi Muslimah”


  1. Desember 18, 2010 pukul 10:23 pm

    like this reminder ^^
    nuhun ya teh, udah dshare

  2. 3 yanni zulheva
    Desember 15, 2011 pukul 5:44 am

    subhannallah….marilah kita metarbiyah masyarakat kita dan memasyarakatkan tarbiyah dimulai dari kita sendiri..dari hal-hal yang kecil dan dari sekarang ini jgn kita tunda-tunda..untuk berlomba-lomba dalam kebaikan….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: