Arsip untuk Kategori 'taujih'

23
Sep
11

Akhlak yg ke 4 : Sholat di malam hari ketika yang lain tertidur

Rasa kantuk sangat wajar menyelimuti kita pada sepertiga malam

Terlebih bagi yang telah lelah letila sudah beraktivitas sejak pagi hari

Namun rasa kantuk itu akan sirna tatkala kita mengetahui bahwa sepertiga malam itu menjadi waktu yang begitu indah

Mengapa begitu indah? karena pada sepertiga malam Allah turun dari langit, mendekat dan mendengarkan suara hati hamba Nya

Para sahabat melakukan hal ini pada sepertiga malam terakhir

Abu Bakar membaca Al-Qur’an ketika Sholat dengan suara pelan

Umar bin Khattab membaca AL-Qur’an dengan suara keras

Rasulullah SAW berkata “suara kalian seperti lebah di malam hari”

Rasulullah SAW menyampaikan kepada Abu Bakar “keraskan sedikit suaramu, agar tetangga ikut mendengarkan syahdunya bacaan Al-Qur’an

 

*triwisaksana_tausiyahviafb

 

17
Jun
11

Kapan terakhir kali menitikkan air mata???

“Tidak ada mata berderai kecuali di belakangnya ada hati (yang hidup).” (Ali bin abi Tahlib ra)

Rasulullah bersabda “Tidak akan masuk neraka laki-laki yang menangis karena takut kepada Allah, hingga air susu bias kembali ke kambingnya.” (HR. Tirmidzi)

Sungguh air mata yang menetes karena takut kepada Allah adalah obat dan kesembuhan bagi jiwa. Menangis adalah ungkapan hati yang bersih. Dia adalah bahasa yang tidak dikanali kecuali orang-orang yang memiliki hati bercahaya. Dia adalah keberkahan yang dimiliki seorang yang beriman, dan keselamatan bagi orang-orang yang punya rasa takut akan kebesaran Rabbnya.

Tertahannya air mata karena :

1.   Tertahan karena jauh dari sisi Allah SWT

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah, pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya…dan laki-laki yang menyebut Allah dalam kesendiriannya lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Bukahri dan Muslim)

2.  Tertahan karena jarang bersentuhan dengan Al-Qur’an

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya hati itu bias berkarat sebagaimana besi berkarat.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah SAW apakah pembersihnya?” beliau menjawab, “Mengingat mati dan banyak membaca Al-Qur’an.”

Ibnu Mas’ud berkata “Carilah hatimu dalam tiga tempat : ketika mendengarkan Al-Qur’an, dalam majelis-majelis dzikir, dan di saat-saat kesendirian. Jika kamu tidak mendapatinya di tempat-tempat itu, maka mintalah kepada Allah untuk dianugerahi karena sesungguhnya kamu tidak memiliki hati.”

Aisyah ra menambahkan kisah lain tentang ayahnya itu, “Ketika Rasulullah SAW sakit dengan penyakit yang membawa kepada kematian beliau, Bilal dating dan meminta izin agar beliau mau memimpin shalat. Lalu beliau bersabda, “Suruhlah Abu Bakar, hendaklah dia yang memimpin shalat.” Aku berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-l;aki yang gampang bersedih.” “Abu Bakar adalah laki-laki yang gampang menangis. Dia tidak dapat menahan air matanya jika membaca Al-Qur’an. Jika ia berdiri di tempatmu, ia akan menangis dan tidak sanggup membaca (ayat-ayat Al-Qur’an)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

3.  Tertahan karena terlalu banyak tawa dan canda

Tertawa, bagi seorang mukmin yang shalih, bukanlah sesuatu yang iab. Ketaatan tidak menghalangi siapapun untuk tertawa. Siapapun boleh tertawa. Sebab Rasulullah SAW, manusia paling mulia itu pun, tertawa dan bersenda gurau dengan sahabat-sahabat beliau.

Tertawa dan canda tidak dilarang. Tapi tidak disukai jika berlebihan. Kata Rasulullah SAW, banyak tertawa dapat melenyapkan fungsi hati, mengubahnya dari hidup menjadi mati, merusak sensitifitasnya menjadi jumud, dan karena itu mata tak mampu untuk menangis

4.  Tertahan karena lupa akan kematian dan hari kiamat

Hidup ini pasti akan berhenti hanya pada satu titik : kematian. Dan perjalanan ini pun pasti akan berujung pada satu pemberhentian : hari kahirta. Karena memnag tak ada yang abadi di dunia ini kecuali Sang Pencipta, dan tak ada satu manusia pun kecuali akan dibangkitkan kembali seperti keadaannya semula.

Ketika Rasulullah SAW mendapati putra tercintanya, Ibrahim, meninggal beliau pun menangis. Anas bin Malik ra berkata, “kami bersama Rasulullah SAW mendatangi Abu Saif yang (istrinya) telah mengasuh dan menyusi Ibrahin (putra Nabi SAW). Lalu Rasulullah SAW mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian setelah itu, pada kesempatan yang lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata. Lalu berkatalah Abdurrahman bin Auf ra kepada Beliau, “Mengapa engkau menangis, wahai Rasulullah (padahal engkau melarang kami)?” Beliau menjawab, “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang).” “Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami, dengan perpisahan ini wahai Ibrahim pastilah bersedih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5.  Tertahan karena pergaulan yang tidak baik

Hati yang keras itu disebabkan oleh empat hal yang jika kamu melakukannya melampaui kebutuhan : makan, tidur, berbicara dan bergaul dengan orang-orang yang tidak baik.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Maka hendaklah setiap orang melihat dengan siapa dia bergaul dan bersahabat. (HR. Ahmad)

“Kapan saja engkau melihat dirimu lari dari ketaatan kepada-Nya menuju ketaatan kepada makhluk, atau dari menyendiri bersama Allah berpindah kepada menyendiri bersama yang lain, ketahuilah bahwa engkau tidak cocok bersahabat dengan orang itu.” (Ibnu Qayyim)

6.  Tertahan karena tidak khusyu’ dalam do’a

Hilangnya kekhusyu’an dalam do’a menjadi sebab hilangnya kekhusyu’an. Dan hilangnya kekhusyu’an pasti menjadi sebab hilangnya tangis dan linangan air mata. Rasulullah SAW berdo’a kepad Allah, memohon perlindungan dari hati yang tidak bias khusyu’. Mata memiliki hubungan yang erat dengan hati. Kebiasaan seorang menitikkan air mata karena ia memiliki hati yang perasa, sensitive dan gampang terpengaruh.

Zaid bin Arqam berkata, “Aku tidak mengatakan kepada kalian kecuali seperti apa yang dikatakan Rasulullah SAW. Beliau berdo’a, “Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak khusyu’, diri yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak terkabulkan.” (HR. Muslim)

 

***Tarbawi edisi 235

14
Jun
11

DIDIKLAH LIDAHMU…!

 “Hai orang-orang yang beriman, takwalah kamu kepada Allah dan ucapkan kata-kata yang benar. Allah akan memperbaiki perbuatanmu dan akan memaafkan dosa-dosamu, siapapun yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dialah orang yang betul-betul beruntung (QS. Al-Ahzab : 70-71).

1.  Lebih baik dari sedekah,  “Perkataan yang indah dan permintaan maaf, jauh lebih baik dari sedekah yang diiringi cercaan. Allah Maha Karya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263)

2.  Sarana masuk surga,  Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang dapat menjamin untukkua pa yang ada diantara dua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) maka aku menjamin untuknya surga.” (HR. Bukhari)

3.  Mendatangkan keridhaan Allah,  Rasulullah bersabda “Sesungguhnya seseorang mengucapkan perkataan yang diridhai Allah SWT yang mana dia tidak pernah menyangka perkataannya itu akan menyebabkan dampak yang baik, yang karenanya Allah akan menulis keridhaan-Nya baginya sampai pada hari dia menemui-Nya.” (HR. Malik, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

4.  Menunjukkan tingkat keimanan seseorang,  Rasulullah bersabda “Tidak akan lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sehingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya.” (HR. Imam Ahmad)

5.  Mengikuti teladan Rasulullah

 

20 bahaya lisan yang harus ditinggalkan manusia

1.   Berbicara sesuatu yang tidak perlu

2.  Berbicara berlebihan

3.  Melibatkan diri dalam pembicaraan yang bathil

4.  Berbantahan dan perdebatan

5.  Pertengkaran

6.  Menekan ucapan

7.  Berkata keji, jorok dan caci maki

8.  Menyanjung

9.  Kutukan

10. Nyanyian dan syair yang di dalamnya terdapat ungkapan yang buruk

11. Adu domba

12. Senda gurau

13. Perkataan yang berlidah dua

14. Ejekan dan cemoohan

15. Menyebarkan rahasia

16. Melibatkan diri secara bodoh pada beberapa pengetahuan dan pertanyaan yang menyulitkan

17. Janji palsu

18. Berbohong

19. Bergunjing

20. Kurang cermat dalam berbicara (asal bunyi)

 

“Ya Allah, tolonglah aku sehingga aku bisa membaca kitab-Mu (Al-Qur’an) dan bisa banyak mengingat-Mu, teguhkanlah aku dengan kata-kata yang kukuh di dunia dan di akhirat.”

Rasulullah SAW bersabda “Perumapamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan pandai tukang besi. Berteman dengan penjual minyak wangi  akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akar membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pandai-pandai memilih teman, walaupun penampilannya sama seperti kita, misalnya memakai kerudung tetapi kalau sehari-hari senangnya bergunjing, mencemooh, tentu bukan pilihan TEMAN yang baik.

20
Jan
11

ujian datang dititik terlemah

Allah SWT akan senantiasa menguji antum pada titik terlemah antum. Orang yang lemah dalam masalah uang, namun kuat dalam masalah jabatan dan wanita, tidak di uji dengan wanita dan jabatan. Orang yang sennatiasa mudah tersinggung dan pemarah, maka akan di uji oleh Allah dengan dipertemukan dengan orang-orang yang senantiasa membuatnya tersinggung dan marah.  Sampai ia berhasil memperbaiki kelemahannya itu dan tidak lagi mudah tersinggung dan marah. Sampai ia berhasil memperbaiki kelemahannya itu dan tidak lagi mudah tersinggung dan marah. Seorang yang senantiasa berlambat-lambat dalam dakwah karenaalasan “istri, mertua, tamu” akan senantiasa dihadapkan dengan alasan-alasan itu, “mertua datang, tamu datang silih berganti, yang akan terus menundanya untuk bersegera menghadiri liqoat dakwah, sampai ia bisa mengutamakan agenda dakwah.”

(KH. Rahmat Abdullah, Episode cinta Sang Murrobi)

 

Deteksi dini dan hati-hati

Lemah soal harta? jangan bergelimang kemewahan.

Mudah tergoda perempuan? jaga hati, seleksi tontonan dan tundukan pandangan

Tak kuat jadi pejabat? jangan terlalu merapat agar nggak terciprat syahwat dan syubhat

 

Ujian itu pasti.

Masalah sudah niscaya.

Freshkan diri, cek kondisi, barangkali Ibadaha tak lagi bergairah.

Shalat tak terasa nikmat.

Tilawah tak sembuhkan Ruhiyah.

Salah satu indikasi kelemahan iman adalah kalau tak bisa lagi menunaikan shalat dhuha (Abdullah Utsman, M. Si).

 

Mau sukses tanpa stress??

“Tunaikan Shalat Sunnah Dhuha lalu berinfaqlah semampunya.”

itu resep nyata bukan teori semata.

Buktikan saja..!

Fudhail bin Iyadh menasihatkan, “Bila engkau sulit untuk bangun di malam hari dan sulit berpuasa sunnah di siang harinya, ketahuilah engkau tengah terbelenggu oleh dosa-dosamu.”

Setiap orang akan dihukum oleh dosa yang dilakukan. Cepat atau lambat hanya soal waktu. Lebih cepat lebih baik, biar segera sadar dan mengambil pelajaran besar.

 

***New Quantum Tarbiyah

17
Des
10

Syarat-syarat Eksistensi Dakwah

 

Gerakan da’wah baru bisa eksis dan survive bila memiliki 10 Muqowwimat yang disebut Muqowwimat Itsbat Wujudud Da’wah :

1. Memiliki prinsip yang kokoh yang disebut rusukhul mabda. Aqidah kita jelas memiliki prinsip-prinsip yang kokoh.

2. Memiliki visi yang jelas. Fikroh yang kita miliki membangun tashowur baru yang mustaqbaliyah.

3. Mempunyai konsep yang aplikatif. Minhaj kita yang berasal dari Qur’an memberikan pada kita konsep syir’atan wa minhajan, disebut juga sebagai konsep yang aplikatif dan qobilit tanfidz (bisa diterapkan)

4. Memiliki kader-kader yang mumpuni. Dalam fiqhud da’wah disebut sebagai annukhat al akifa. Kader-kader yang memiliki kafa’ah disegala bidang ini terkait multi dimensinya kehidupan manusia yang harus kita bangun.

5. Mempunyai pemimpin yang kharismatik. Harus mampu menumbuhkan dan menampilkan pemimpin yang kharismatis yang bukan hanya berpengaruh atau diterima di dalam, melainkan di tengah-tengah masyarakat diakui kharisma intelektualitas dan moralitasnya. Walaupun belum tentu diterima, yang jelas kharismanya diakui secara luas.

6. Memiliki organisasi yang efektif atau tandzimun fa’al. jama’ah da’wah kita menggunakan sistem organisasi untuk menata potensi. Begitu keputusan turun, hendaknya langsung diinformasikan kesemua jajaran terkait dengan sistem informasi manajemen.

7. Memiliki da’am sya’bi atau dukungan masyarakat. “huwaladzi ayyadaka binashrihi wabil mu’minin (Dialah Allah yang telah membantumu dengan pertolonganNya dan kaum Mu’minin). Kita hidup diantara mayoritas masyarakat muslim, tinggal bagaimana caranya agar mereka yuayyidud da’wah (mendukung da’wah). Dalam prosen pembinaan mulai dari :

  • yakhtalituna bina (menjadikan manusia berinteraksi dengan kita),
  • yaltakuna haulana (menjadikan manusia berada di sekeliling kita)
  • yataharrakuna ma’na (menjadikan mereka bergerak bersama kita)
  • yaltazimuna bina (menjadikan mereka berkomitmen bersama kita)

8. Mempunyai ekonomi da’wah yang berkembang. Pendanaan da’wah memang berkembang dari ruhul badzal wa tadhiyyah, wajahidu biamwalikum wa anfusikum. Tapi tentu saja faktor-faktor yang bisa membuat ruhul badzl wa tadhiyyah tadi harus direkayasa didayagunakan dan dimenej dari mana ia dapat memperoleh sumber-sumber yang halal, agar da’wah ini memiliki sumber pendaan yang baku.

9. Dukungan birokrat

10. Dukungan tentara

Yang perlu dirancang dan diusahakan adalah 10 persyaratan tadi dan di dalam perjuangan manapun dibutuhkan kader-kader yang menggerakan. Karena tidak harus banyak penduduk Indonesia masuk ke dalam gerakan da’wah ini, yang penting adalah bagaimana muharriku sya’b, mendayagunakan potensi masyarakat.

Pilihannya adalah DIAM atau TERGANTIKAN !!!

 

 

***edisi 011/Al-Intima/KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

16
Des
10

Suara

Postingan terpanjang di tahun baru, hmmm…tentang kepemimpinan, demokrasi, de el el.

 

Tapi tidakkah kau rasakan dia senantiasa mengimbangi posisiku. Jika ia lembut, dia mengeraskan dan meyakinkan. Jika kau keras, dia melunakkan dan menyabarkanku!” (penggalan kata Abu Bakr kepada ‘Abdurrahman ibn ‘Auf tentang ‘Umar… like this :D )

 

Da’wah yang tenang, namun lebih gemuruh

Dari tiupan topan yang menderu

Da’wah yang rendah hati, namun lebih perkasa

Dari keangkuhan gunung yang menjulang

Da’wah yang dekat, namun lebih luas

Dari belahan bumi seluruhnya

(Hasan Al Banna)

 

Yang tercinta tanah airku

Katakan pada mereka yang mencoba menyebut kami sektarian atau primordial

Kata itu justru adalah burung hantu yang engkau terbangkan di langit hati kami

Namun kini telah tertembak mati oleh senapan nurani keIslaman kami

Lihatlah, kini ia terkapar tak berdaya di ujung gurun sahara

Dan merpati Islam pun terbang tinggi membawa pesan kedatangan

Kami kembali

Yang tercinta tanah airku!”

(M. Anis Matta)

 

Dunia seolah telah bersuara satu untuk demokrasi

Dan hari ini rakyat Palestina pun senada

Jika mereka harus dihukum karena memilih Hamas

Maka demikian pula rakyat Amerika harus dihukum karena memilih Bush!

(Khalid Misy’al)

 

Ada aksioma yang kita yakini, bahwa di dunia ini senantiasa terjadi pertarungan antara Al-Haq dan Al Bathil, As Sira’ bainal Haqqi wal Bathil. Seorang intelektual muslim memilih diksi yang lebih lembut yakni mudafa’ah, desak mendesak, dorong mendorong. Dalam keyakinan mereka, kebenaran dan kebhatilan hanya bertarung dalam dongeng, disana kebenaran selalu menang di akhirnya. Saat ini menjadi penting untuk menggabungkan energi keshalihan sekaligus energi kemaksiatan dalam satu wadah demi dunia yang damai, maju dan beradab.

Setiap manusia mempunyai kepentingan. Kepentingan yang ada dalam dada dan kepala masing-masing manusia. Mengukur mana yang haq dan mana yang bathil tak perlu dimasalahkan. Di sana ada landasan konsepsi, metode gerak, dan hasil serta dampak hanya ada dua yaitu Hizbullaah dan Hizbusy Syaithan.

Di sini terlihat. Medan yang membentang luas, penuh sesak oleh manusia dalam dinamika yang saling mendesak, saling berlomba dan saling mendorong mencapai berbagai tujuan. Tetapi di belakang itu semua, ada tangan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengatur yang memegang semua kendali dan menuntun parade yang saling berdesakan, saling menjatuhkan, dan saling berlomba cepat itu, kea rah kebaikan, kemashlahatan, dan pertumbuhan, di akhir perjalanan. (Sayyid Quthb)

 

Karakter asli kebhatilan adalah zahuq : lenyap, tertutup dan kalah.

Dan katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap’. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Israa : 81)

Tetapi mengapa kebhatilan kini semakin eksis? Karena yang benar tidak datang untuk mendesak dan menjadikannya zahuq. Karena kebenaran berdiam diri di masjid-masjid, dan bersembunyi di mihrab-mihrab. Karena kebenaran memilih diam disaat kebhatilan bicara, lalu terlambat bicara disaat kebahtilan telah bekerja. Karena kebenaran tak pernah mendesak dan memukul berhala-berhala itu dengan tongkatnya.

Umat Muhammad memang istimewa. Pada umat sebelumnya, ketika da’wah terbuntu, ketika para Rasul sudah habis-habisan berda’wah namun tak juga bertambah pengikutnya, ketika penentang-penentang da’wah semakin sombong dan angkuh, Allah sendiri yang kemudian menurunkan azabNya.

Kaum Luth habis diterjang hujan batu berapi dan tanah pijakan mereka dibalik, yang diatas dijadikan yang dibawah. Kaum Tsamud ditimpa gempa dan suara keras mengguntur. Kaum ‘Aad habis dengan terpaan angin dingin yang sangat keras, hingga mereka bagaikan tunggul kayu lapuk tak berbekas. Fir’aun, yang memusuhi Musa ditenggelamkan. Bahkan Nuh berdoa saat banjir menggemuruh, agar Allah memupus habis kaum yang menentangnya.

Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlan Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba MU, dan mereka tidak akan melahirkan selain generasi yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh : 26-27)

Umat Muhammad tidak. Ketika Nabi diusir, dilempari batu, dikejar-kejar hingga berdarah-darah, ia tidak berdoa seperti Nuh untuk membinasakan kaum itu. Ia justru berdoa agar Allah mengampuni karena ketidaktahuan mereka. Ia justru berharap jikapun mereka tak beriman, kelak anak-anak mereka yang beriman. Dan Allah sekali lagi menegaskan keistimewaan itu.

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah : 14)

Jika untuk menghancurkan kaum sebelumnya Allah mengerahkan tentara alam, kini Allah memanggil partisipasi hamba-hamba beriman. Azab Allah bagi penentang-penentang da’wah datang lewat tangn orang-orang mukmin, bukan bencana alam. Siksa itu mereka rasakan sebagai sebuah desakan dari kebenaran atas kebhatilan melalui upaya sistematis dan terprogram. Bersiaplah. Berperanglah. Selebihnya, Allah lah Sang Penolong. Seperti doa yang menjerit dari hati mulia di padang Badr, “ya Allah, jika golongan ini Engkau biarkan binasa, Engkau tak akan disembah lagi di muka bumi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah lagi selamanya setelah hari ini!

Kalimat Ash-Shiddiq yang menenangkan sabahatnya, “Cukup ya Rasulullah, tenanglah… Allah tidak akan menyalahi apa yang telah Ia janjikan kepadamu!”.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan orang-orang sebelumnya berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengganti (kondisi) mereka sesudah merreka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu tanpa mempersekutukan apapun denganKu.” (QS. An-Nur : 55)

Medan sejati kita, insyaallah memang perang mempertaruhkan jiwa, hingga pohon dan batu bicara. Diluar medan final ketika besi bertemu besi dan api bertemu api, hari-hari ini kebhatilan memilih satu sarana perang yang membungkam kebenaran. Suara. Ya. Suara. Al Mughalabah bil Ashwaat. Dominasi ditentukan oleh suara. Siapa yang lebih keras, dan banyak dalam bersuara, dia yang akan menang.

Bermula polemik ketika da’wah bersentuhan dengan demokrasi. Karena di mana ada da’wah, di situ demokrasi diadakan, atau minimal dicita-citakan. Ketika yang memenangkan demokrasi adalah da’wah, seperti Hamas di Palestina.

Dr. Yusuf Qardhawi berkata , “Pemimpin yang terpilih karena diridhai rakyat jauh lebih dekat pada Islam daripada tiran yang disebut Nabi sebagai seburuk-buruk pemimpin sabdanya, “Dia membenci kalian dan kalian membencinya!”

Sejarah Khulafaa-ur Rasyidiin menawarkan sistem yang sangat fleksibel untuk memilih orang terbaik yang akan memandu da’’wah. Afzal Iqbal dalam Diplomacy in Early Islam, diantaranya :

Abu Bakr : Diplomasi dan Aklamasi

Pemakaman jenazah Rasulullah dengan sangat terpaksa harus ditunda. 3 sahabat utama itu : Abu Bakkr, ‘Umar dan Abu ‘Ubaidah ibn Al Jarrah bergegas-gegas ke arah Saqifah Bani Sa’idah. Di balai pertemuan itu, orang-orang Anshar berkumpul untuk memilih pengganti Rasulullah. Itu dia pemimpin yang telah mereka pilih, pemimpin Khazraj, Sa’d ibn ‘Ubadah sedang terbaring menggigil demam di pojok ruangan.

Abu Bakr seperti biasa, bicara dengan kalimat ringkas namun meyakinkan. Abu Bakr dengan nada kesyukuran yang khidmat menghargai pengabdian orang-orang Anshar untuk Islam, kesetiaan mereka pada Rasulullah, pembelaan dan pertolongan mereka yang tak terhingga. Sekaligus juga Abu Bakr bicara tentang persoalan legitimasi. Apa yang ditinggalkan Rasulullah telah demikian luas, dan sungguh semua bangsa Arab hanya bisa menerima pemimpin dari Quraisy, pelindung dan pelayan Ka’bah sejak berabad-abad. Tentu sosok Abu Bakr sebagai juru bicara, memudahkan argumen ini diterima orang-orang Anshar. Teriakan, “masing-masing punya pemimpin! Kalian pilihlah pemimpin -istdan kami telah memilih Sa’d!”, yang semula bersiponggang luluh melihat ketulusan Abu Bakr.

Abu Bakr mengakhiri pidatonya. “Wahai saudara-saudaraku Anshar..!”, katanya, “Tak seorang pun yang mengingkari ketinggian derajat kalian dalam agama dan keagungan pengorbanan kalian dalam Islam. Kalian telah dipilih Allah unntuk menolong agama dan RasulNya, kepada kalianlah Rasulullah diutusNya saat beliau hijrah, dan justru dari kalianlah mayoritas  sahabat Rasulullah dan istri-istri beliau berasal. Posisi kalian adalah setelah As Sabiquunal Awwaluun. Sungguh adil dan tepat sekiranya kami duduk sebagai Amir, maka kalian akan duduk sebagai Wazir. Kalian tidak akan terhambat dengan apa yang akan kalian rencanakan, dan kami takkan melakukan apapun sebelum berkonsultasi dengan kalian!”

Lalu Abu Bakr menominasikan ‘Umar dan Abu ‘Ubaidah untuk dibai’at. Tapi suasana jadi begitu sendu. ‘Umar hanya gemeretak giginya, mengepalkan tangan dan menunduk dalam, sementara Abu ‘Ubaidah meneteskan air matanya sambil geleng-geleng karena rasa malu. “Tidak!” kata ‘Umar, “Justru engkaulah yang akan kami bai’at.” Dan semua sepakat denagn ‘Umar. Hari itu, kaum muslimin memiliki seorang pemimpin baru. Dengan sebuah diplomasi. Dan aklamasi.

 

‘Umar : Lobi dan Amanat, dari Yang Terpercaya pada Yang Terpercaya

Menjelang wafat, Abu Bakr mulai berpikir tentang penggantinya. Sesekali ‘Umar, yang ketika itu menjabat Qadhi, dimintanya untuk menggantikan mengimami shalat, seperti dulu saat Rasulullah sakit dirinyalah yang diminta. Ini seperti sebuah promosi (taqwim) awal. Lalu satu per satu, Abu Bakr bicara pada tokoh-tokoh sahabat.

Bukankah kau lihat ‘Umar seorang yang keras wahai Khallifah Rasulullah?”, kata ‘Abdurrahman ibn ‘Auf ketika mendengar disebutnya nama ‘Umar. “Ya”, kata Abu Bakr. “Tapi tidakkah kau rasakan dia senantiasa mengimbangi posisiku. Jika ia lembut, dia mengeraskan dan meyakinkan. Jika kau keras, dia melunakkan dan menyabarkanku!” ‘Abdurrahman ibn ‘Auf menggangguk.

‘Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, dan hamper semua shahabat yang dihubungi Abu Bakr setuju atas pilihan Sang Khalifah. Hanya Thalhah yang agak keras. “Saat engkau masih berada di tengah kami pun”, katanya, “Kami telah merasakan betapa kerasnya dia. Bagaimana nanti kalau kau sudah menghadap Allah? Apa jawabmu padaNya ketila tergugat telah meninggalkan kaum muslimin pada seorang yang berperangai keras?”

“Dudukkan aku…!Wahai Thalhah apakah engkau sedang menakutiku?”, kata Abu Bakr dengan ekspresi gembira. “Aku bersumpah, demi Allah jika aku menghadap Rabbku, akan kukatakan padaNya bahwa aku telah menetapkan atas makhlukNya seorang pemimpin yang paling kuanggap baik diantara mereka…” Abu Bakr telah memutuskan. Dan didiktekanlah surat wasiatnya pada sekretaris negara, ‘Utsman ibn ‘Affan.

Ketika ‘Umar datang dan sadar apa yang terjadi, dia berseru, “Aku tidak pernah menghajatkan posisi itu!!!” Abu Bakr tersenyum. “Benar saudaraku, tapi posisi itulah yang menghajatkanmu.” Jendela rumah Abu Bakr yang menghadap ke Masjid Nabawi itu terbuat dari tanah. Ke sanalah Abu Bakr beringsut, membukanya dan menghadap khalayak yang menunggu kabar kondisi sakitnya. Setelah salam dan shalawat pada kekasihnya, ia berkata anggun, “Apakah kalian akan menerima dengan lapang dada seorang yang telah kupilih sebagai penggantiku?”

“Ya…!”, jawab khalayak itu.

Setelah menjelaskan sedikit, beliau menyebut nama ‘Umar dan berkata, “Apakah ini cocok untuk kalian?”

Kami setuju!”

“Apakah kalian akan taat dan setia padanya?”

“Ya!”

Maka langit Madinah cerah dengan arakan awan. Semua tahu, ‘Abu Bakr sangat bijak dalam memerintah, dan lebih dari itu, sangat bijak memilih pengganti.

 

‘Utsman : Majelis Syuraa

Setelah tikaman di shubuh itu, ‘Umar harus terbaring. Ummu Kultsum binti ‘Ali tersedu melihat suaminya. “Kasian engkau wahai ‘Umar…!”, ratapnya. Yah, sang istri melihat sendiri, saat ‘Umar diberi minum susu, susu itu mengalir keluar dari luka perutnya. Begitu juga sari buah, luka itu jadi semakin perih.

Tetapi ia telah menunjuk 6 orang anggota Majelis Syuraa yang akan berembug tentang penggantinya. Ia telah merumuskan tatacara pemilihannya, yang bahkan paragraph terakhirnya berbunyi, “Jika prosedur telah ditunaikan dan masih ada yang belum mau menerima keputusan syuraa diantara mereka, maka diijinkan untuk memenggal lehernya.” Seram. Khas ‘Umar. Dan memang begitulah seharusnya demi keutuhan umat.

Abu Thalhah Al Anshary bersama 50 orang bersenjata lengkap sejak hari itu berjaga ketat di kediaman ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anha yang bersahaja. Di dalam sana, Thalhah telah memberikan suaranya untuk ‘Utsman, Az Zubair memberikan suaranya untuk ‘Ali, dan Sa’d ibn Abi Waqqash memberikan suaranya untuk ‘Abduraahman ibn ‘Auf. ‘Abdurrahman berdiri, menyatakan bahwa ia siap memimpin dewan, tapi meninggalkan amanah khalifah sejak awal. Maka diapun memulai tugasnya, berkonsultasi dengan para shahabat, para istri Rasulullah, para pemimpin kabilah, dan yang juga penting, kedua calon. Sementara yang lain dalam karantina, ‘Abdurrahman telah melihat garis besarnya, Bani Hasyim mendukung ‘Ali, sementara Bani ‘Umayyah mendukung ‘Utsman.

Hari itu, Masjid Nabawi penuh sesak. Di Mimbar, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf berdiri diapit ‘Ali dan ‘Utsman. Mula-mula ia berkata sambil mengangkat tangan ‘Ali, “Saya mengambil sumpahmu dengan syarat mengikuti Kitabullah, sunnah RasulNya, dan teladan Abu Bakr serta ‘Umar!”

“Saya akan mengikuti Al Qur’an, Sunnah Nabi, serta jalanku sendiri!”, demikian jawab ‘Ali. Hingga 3 kali.

Lalu ‘Abdurrahman ibn ‘Auf beralih ke ‘Utsman. Diucapkannyalah perkataan yang sama. Dan ‘Utsman di bai’at hari itu juga sebagai Khalifah yang baru. Zaman lalu menyaksikan sebuah pemerintah yang diisi karakter seorang pemalu nan dermawan, kasih sayang.

 

‘Ali : Suara Mayoritas

Hari itu, 24 Juni 656. Lima hari setelah terbunuhnya ‘Utsman secara zhalim. Jalan-jalan Madinah dipenuhi oleh gerombolan manusia, rombongan-rombongan, dari jauh dan dekat yang sulit diperkirakan sikap dan itikadnya. Keluarga ‘Utsman, juga beberapa shahabat yang meyakini telah datangnya masa fitnah seperti Sa’d ibn Bin Waqqash, ‘Abdulllah ibn ‘Umar, dan Usamah ibn Zaid memilih untuk mengungsi ke Mekkah.

Dalam atmosfer yang penuh dengang ketakutan, horor dan tak berlakunya hukum, harus ada satu keberanian puncak untuk segera menata kembali kondisi. Dan untuk keberanian semacam itu, hanya ‘Ali yang punya. Dan itupun terpaksa. Awalnya dia berkata, ada Thalhah dan Az Zubair yang lebih pantas. Tapi desakan suara mayoritas, bahkan tentu saja dari para pemberontak zaman ‘Utsman yang masih berkumpul di Madinah tak memberinya pilihan lain. ‘Ali tahu resikonya. Ini hanya suara mayoritas, yang itupun dominan. ‘Ali tahu resikonya, karena diapun melihat sudah mulai terlihat beberapa sahabat utama abstain. Dan jika api fitnah ditiup lagi, dia merasa bahwa sikap abstain itu juga akan menajdi fitnah. Tapi apa gunanya memaksa? Bukankah nantinya paksaan itu juga jadi fitnah?

‘Ali tahu resiko yang diembannya. Dan ia menerima suara mayoritas itu.

 

Politik Cerdas Raja’ ibn Haiwah, “The Khalifah Maker”

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dibumi. Dan kesudahan yang baik itu, bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Qashash : 83)

Inilah ayat yang berulang-ulangdibaca orang-orang mulia di ranjang kematiannya. ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Azis. Dia memang layak mengabadikan kalimat ini dalam kebekuan lisan yang menggetarkan kata terakhir. Dalam kapasitas sebagai pemimpin dengan berjuta rakyat dan tiga benua, gelinciran sombong dan kerusakan bisa menjadi semudah mengatup buka bibirnya.

Tapi dengan resiko besar itu, dia telah sukses menyelesaikan perhentian sejenaknya di alam fana. Sampai para gembala pun bisa menyaksikan serigala berkawan mesra dengan domba di masa pemerintahannya. Pertanyaannya, siapa yang berperan memasukkannya ke dalam jajaran khilafah, padahal hegemoni keluarga pamannya ‘Abdul Malik ibn Marwan nyaris tak tertembus?

Orang itu, Raja’ ibn Haiwah. Dia, dengan kedekatannya pada Khalifah Sulaiman ibn ‘Abdul Malik berhasil membujuk sang Amirul Mukminin untuk menyerahkan khilafah sepeninggalnya pada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, baru kemudian pada keluarga ‘Abdul Malik yang dikehendakinya. “Inilah yang akan meringankan perhitungan amal baginda di hadapan Allah kelak. Menyerahkan khilafah pada seorang yang adil dan berbudi.”, begitu kata Raja’.

Al khuruuj minal ikhtilaaf mustahab” , kata Imam Asy Syafi’i. Keluar dari polemic itu disukai dan dekat pada sunnah. Karena memang ini sebuah keran yang tiba-tiba terbuka. Dan kini, segala yang pada mulanya terttelikung bebas bergerak mengekspresikan diri. Termasuk da’wah.

Akhirnya, demokrasi bagi da’wah bukanlah sebuah sistem. Atau manhaj kufur yang kita terjebak di lubang gelap jika mengikutinya. Bukan, ia terlalu sederhana untuk disebut sistem. Bagi da’wah, demokrasi hanyalah sebuah medan [ertempuran yang kebetulan dipetakan oleh Barat dan kini dipilih oleh musuh da’wah. Dan da’wah dengan jiwa ksatria sedang berkata, “Pilihlah di manapun tempat kita akan berlaga. Dan dengan ijin Allah, kami pasti akan memenangkannya!”

 

 

***Menata Busana Bertiara/Salsikan Bahwa Aku Seorang Muslim/Salim A Fillah

10
Des
10

Tarbiyah Menyejarah

Semua itu mengungkapkan kebingungan mematikan, yang tiada ketenangan dan kedamaian didalamnya. Mengungkapkan keadaan jenuh yang telah mencapai titik terendah.. Dijadikan dunia ini indah bagi mereka, lalu mereka berhenti pada batasnya, terantuk, tak kuasa menembusnya (Sayyid Quthb)

 

…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan..” (QS. Al-Hujurat : 7)

 

Hari itu, anak beranak, Ibrahim dan Ismail menyelesaikan tugas peradaban mereka, membina dan meninggikan dasar-dasar Baitullah. Mereka berdua, dengan peluh yang belum terseka pada terik pandang pasir yang memeras keringat, menengadahkan tangan. Do’a yang sederhana. Meminta agar amal-amalnya diterima. Do’a yang tawadhu. Memohon petunjuk untuk beribadah dalam ridhonya. Do’a yang menyejarah. Memohon kesinambungan peradaban untuk suatu ummat yang terus mendengar ayat-ayatNya, mempelajari kitab dan hikmah serta mensucikan dirinya.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yanga akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah : 129)

Do’a itu terjawab. Dengarlah ketika Allah mengingatkan pewaris-pewaris Ka’bah yang membanggakan Ibrahim namun meninggalkan jalannya itu dengan sebuah kalimat yang abadi…

3 langkah yang dilakukan Rasulullah untuk merevolusi masyarakat jahiliyah, masyarakat yang berbeda dalam kesesatan nyata menjadi guru dunia :

Pertama, Tilawah : membacakan ayat-ayat Allah

Kedua, Tazkiyah : mensucikan

Ketiga, Ta’lim : mengajarkan

 

Secara sederhana, sering menyebut 3 hal dari do’a Ibrahim, ijabah Allah, dan langkah-langkah pembinaan Rasulullah itu dengan satu kata ringkas : Tarbiyah.

Syaikul Azhar Ali Abdul Halim Mahmud menyebut Tarbiyah sebagai cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, secara langsung maupun tidakk, untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik. Proses itu harus menyentuh seluruh aspek kehidupannya meliputi ruh, akal dan jasmaninya.

Setelah lama kaum muslimin ‘sekedar menikmati’ peradaban yang dibangun dengan pendahulu dengan jalan Nabawi itu, abad ke-20 menyaksikan penggalian kembali nilai tarbiyah sebagai konsekuensi sampainya mereka dititik terbawah kemerosotan.

Saat itu, cuaca peradaban sedang suram diseluruh dunia islam. Mentari benar-benar telah terbenam setelah kabut yang menggulungnya beradab lamanya sempurna menjadi malam dengan senja yang tertanduk syetan. 4 tahun setelah 1924, tahun yang dikenang Taqiyyudin An Nabhani dan pergerakan Hizbut Tahrir sebagai tahun runtuhnya khilafah, di Mesir, purnama itu mulai mengintip malu dari balik awan. Lelaki itu, Hasan Al Banna, membuat sebauh keputusan menyejarah diusianya yang ke-22. Al Ikhwan Al Muslimun. Pergerakan yang core-nya ia desain menurut do’a Ibrahim, sesuai ijabah ilahi dan langkah-langkah Nabawi. TARBIYAH.

Umar At Tilmisani, penerus ketiga, menyebut sistem tarbiyah ini dalam membangkitkan kejayaan islam akan menjadi jalan yang sangat panjang tapi tercepat, butuh waktu lama tapi terjamin hasilnya dan pelu banyak pengorbanan namun terjaga ashalahnya. Karakteristik da’wah para Rasul.

 

Gerakan yang didirikan Hasan Al Banna, tarbiyah memiliki :

Pertama, kata Rabba, Yarbuu : tumbuh

Tarbiyah menumbuhkan seseorang dari kekanakan ruh, akal dan jasad menuju kematangan dan kedewasaan masing-masing. Ruh yang dewasa, akal yang dewasa, dan jasad yang dewasa untuk memetakan diri, menyikapi masalah-masalah dan mengemban tugas-tugas. Tarbiyah adalah sebuah Improvement.

Kedua, kata Rabiya, Yurbii : berkembang

Tarbiyah mengembangkan manusia muslim dalam kemampuan-kemampuan yang dibutuhkannya menjalani kehidupan. Ia dalam tugasnya sebagai Abdullah yang beribadah kepada Allah dan sebagai khalifah yang akan mengelola bumi seisinya di-train untuk memiliki kompetensi yang dikembangkan dari potensi-potensi yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Setelah mengajaknya mengenali potensinya, ia mengajak mengembangkannya. Tarbiyah adalah Development.

Ketiga, kata Rabbaa, Yarubbuu : memberdayakan

Ia telah tumbuh dan berkembang, harus diarahkan untuk berdaya guna. Islam memanggil manusia-manusia muslim untuk membuktikan keunggulannya. Islam menghendaki agar sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat , paling besar daya guna dan kontribusi bagi dunia. Tarbiyah adalah Empowerment.

 

Kerangka kerja peradaban Anis Matta, tarbiyah adalah :

Pertama, Afiliasi

Mengisyaratkan agar da’wah mengembalikan keberpihakan ummat kepada agamanya. Pemahaman terwaris itu harus diubah menjadi pemahaman yang diperoleh dalam keterbimbangan. Keislaman itu harus memiliki akar yang tidak mudah tercabut dari hati. Bangunkan ketertiduran itu. Padanya ada kerja-kerja tarbiyah. Membacakan ayat Allah, mensucikan hati, dan mengajarkan apa-apa yang akan menjawab pertanyaan dan kebutuhan.

Kedua, Partisipasi

Kerja-kerja untuk melepas individu muslim yang kokoh afiliasinya terhadap islam ke tengah masyarakat. Ia yang shalih, akan menjadi seorang mushlih, mendistribusikan keshalihannya ditengah masyarakat. Ia menjadi bagian, sekaligus inti keras yang akan menguatkan masyarakat. Padanya ada kerja-kerja tarbiyah. Menumbuhkan, mengembangkan, dan memberdayakan.

Ketiga, Kontribusi

Memastikan agar tiap individu muslim yang berpartisipasi itu mencapai taraf optimal dalam memberikan kontribusi bagi islam. Salah satu sumber kekayaan masyarakat islam adalah kkeunikan individual dari masing-masing manusia muslim, yang apabila potensi-potensi itu tertuang secara penuh dan membentuk suatu muara islam yang sinergis, sebuah gelombang peradaban yang dahsyat akan segera menggemuruh membelah sejarah. Padanya ada kerja-kerja tarbiyah. Menyentuh seluruh aspek kehidupan. Ruhnya, akalnya dan jasadnya.

 

Akan ada waktu kiranya dimana umat manusia akan sulit membedakan antara pesona kebenaran islam, dengan pesona kepribadian muslim. Tentu dengan satu kata awal yang menyejarah itu.

T. A. R. B. I. Y. A. H.

 

***Memintal Seutas Benang/Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim/Salim A Fillah

10
Des
10

perpisahan

Semua itu mengungkapkan kebingungan mematikan, yang tiada ketenangan dan kedamaian didalamnya. Mengungkapkan keadaan jenuh yang telah mencapai titik terendah.. Dijadikan dunia ini indah bagi mereka, lalu mereka berhenti pada batasnya, terantuk, tak kuasa menembusnya. (Sayyid Quthb)

 

…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan..” (QS. Al-Hujurat : 7)

 

Betapa haruskah..

Kulalui malam ini pada lembah

Yang tiada pada idzkhir

Dan tiada pula jalil

(Bilal ibn Rabah)

Perpisahan memang menyakitkan. Dan kadang berakhir indah. Tepai semuanya niscaya. Seperti perpisahan seorang mukmin dengan dunia, ia masuk surga. Seperti perpisahan para pentaubat dengan maksiatnya, ia menghapus dosa. Seperti perpisahan seorang pengikrar syahadat dengan jahiliyah, ia membangun sebuah kehidupan baru.

Ketika kita kembali mengikrarkan syahadat setelah lama terlalaikan, kita sedang melakukan reuni dengan fitrah. Reuni yang juga bermakna salam perpisahan kepada ‘yang bukan fitrah’. Karena yang bukan fitrah kadang datang menggusur fitrah dari kedudukan yang semestinya dalam diri kita.

Setiap anak dilahirkan diatas fitrah. Maka orangtuanyalah yang meyahudikannya atau menasranikannya atau memajusikannya.” (Mutafaq Alaih)

Wada’an… Selamat tinggal dunia kelam

Wada’an… Selamat tinggal belenggu muram

Inilah titik perpisahan.

Dibalik perpisahan itu ada makna-makna yang mungkin bisa kita telaah

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kukuh itu di kehidupan dunia dan akherat..” (QS. Ibrahim : 27)

Pertama : Berpisah Artinya Berlepas Diri

Kemerdekaan ini menuntut sebuah proklamasi. Bahwa telah melepaskan diri dari semua intervensi, tekanan dan kekangan oleh semua bentuk jahiliyah dan musuh fitrah. Ibrahim Khaliiilur Rahmaan bersama kumpulannya memberi contoh, bagaimana sebuah proklamasi untuk berlepas diri dibangun dengan gagah dan kokoh.

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika berkata pada kaumnya. Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian, dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja..” (QS. Al-Mumtahanah : 4)

Berlepas diri adalah kemuliaan. Ketidaktergantungan kepada musuh fitrah dan jahiliyah, membangun set psikologis yang penuh percaya diri, sejajar bahkan unggul dihadapan tiran jahiliyah yang lacut.

Kedua : Berpisah Artinya Ujian Cinta

kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan diri kalian. Dan kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan orang-orang musyrik, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati..” (QS. Ali Imran : 186)

Nilai mulia seorang pengikrar, bukan terletak pada lengkingan suara tenornya meneriakkan sebuah slogan. Demi Allah. Sang pemilik Kemuliaan yang berhak untuk menguji, menyeleksi dan menetapkan gelar mukmin bagi siapapun yang dikehendakiNya. Ketika pengikrar ini menyatakan berpisah dengan jahiliyah dan musuh fitrah, disinilah sebuah titik tolak dipancangkan : bahwa ia siap menerima ujian untuk melengkapi syarat kelulusannya sebagai mukmin.

Bilal ibn Al-Arats, pandai besi yang pernah dipanggang hingga cairan tubuhnya memadam bara itu begitu trenyuh sampai merajuk, “Yaa… Rasulullah, tidakkah engkau menolong atau berdo’a untuk kami?

Wajah mulia yang sedang berbaring berbantal surban didekat Ka’bah itu menampakkan raut tak suka. Lalu ia bersabda :”Orang-orang yang sebelum kalian ada yang disiksa dengan digalikan tanah lalu ia ditanam disitu hidup-hidup. Kemudian dibawakan gergaji lalu gergaji itu diletakkan diatas kepalanya, kemudian ia dibelah menjadi dua dan disisir dengan sikat besi hingga tinggal kulit dan tulangnya. Tetapi itu semua tidak memalingkan mereka dari agamanya. Demi Dzat yang jiwaku ditanganNya, Allah akan menyempurnakan urusan ini sampai seorang penunggang berjalan sendirian dari Shan’a ke Hadhramaut dan tiada yang ditakutinya kecuali Allah, dan tidak takut serigala akan memakan kambingnya…tapi tampaknya kalian tergesa-gesa!” (HR. Bukhari)

Ini tak sekadar kesengsaraan. Ini bukan hanya kenestapaan. Terjelaslah, ia dan orang-orang yang bersamanya sedang meniti jalan cerita yang disusun Sang Maha Pencipta. Ia sedang menggali lubang terdalam. Maka rasa sakit itu terasa menanjak, agar harapan akan pertolongan Allah memuncak.

Inilah keagungan Islam. Meski pemeluknya membenci kekufuran, tapi ikatan kemanusiaan tak pernah lepas dari perilaku keseharian. Ia ajarkan penghapusan kejahatan sistemik dengan empati, balasan baik yang penuh perhatian dan menjadilah masuk berdecak, bahkan sedia bersetia.

Ketiga : Berpisah Artinya Berbeda

Tidak ada artinya perpisahan fisik, kalau batin masih saling terikat. Tidak ada kemerdakaan sejati, selama yang jauh dimata masih dekat dihati.

Perpisahan dengan jahiliyah dan musuh fitrah adalah sebuah kemerdekaan dari segala jenis keterbelengguan dalam perasaan, pemikiran, ucapan dan tindakan. Merdeka untuk menegakkan fitrah, mentauhidkan Allah dan memakmurkan bumiNya.

Sudah menjadi sifat manusia, bahwa ia menyukai simbol-simbol sebagaimana ia ingin meraih substansi. Substansinya adalah bahwa kegelapan jahiliyah dan penganutnya tidak sama dengan cahaya islam dan penegak-penegaknya.

Dan tidaklah sama orang yang buka dengan orang yang melihat. Dan tidak sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak sama (pula) yang teduh dengan yang panas!” (QS. Fathiir : 19-21)

Ini adalah substansi yang tak akan sempurna tanpa implementasi. Cara pandang, pola pikir, dan bingkai persepsi bisa jadi merupakan implementasi intelektualnya. Jika para penentang aqidah ini berjuang mati-matian menunjukkan eksistensi dengan simbol-simbol dan mode yang memboroskan energi dan sumber daya, maka para pemeluk kebenaran lebih pantas untuk mewarnai dunia dengan celupan warna illahi, simbol penuh karakter sebagai identitas tegas yang akan membedakannya dengan pengikut kebhatilan.

Dibalik perbedaan zhahir selalu ada perasaan batin yang membedakan satu konsepsi dengan konsepsi lain, sistem kehidupan dengan sistem kehidupan lain, dan cirri khas suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lain. Ini bukan fanatisme tanpa makna, tetapi merupakan pandangan yang mendalam kepada apa yang ada dibalik bentuk lahiriah tersebut. Setiap orang kafir, kata Ibnu Taimiyah, akan gembira jika tata cara dan seleranya diikuti. Mereka akan hidup, dan cara pandangnya terhadap segala sesuatu. Kalau itu terjadi, alangkah kasian mereka. Karena mereka akan bangga selalu berada dalam kesesatan. (Sayyid Quthb)

Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Daud)

***Memintal Seutas Benang/Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim/Salim A Fillah

08
Des
10

10 Muwashafat Kader Tarbiyah

Al-Qur’an dan sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah swt. Persepsi (gambaran) masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Oleh karena itu, tarbiyah dakwah kampus harus memiliki orientasi pembinaan yang komprehensif kepada para pelaku dakwah pada khususnya dan seluruh objek dakwah pada umumnya. Diantara berbagai orientasi pembinaan tersebut adalah tercapainya 10 muwashafat (karakter) pokok pribadi muslim (shyaksiyah islamiyah).

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah swt. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid. Contoh kader tarbiyah (ADK) yang memiliki salimul aqidah adalah: tidak percaya pada zimat-zimat, dukun-dukun, ramalan, dan berbagai jenis aktifitas khurafat dan takhyul seperti: Nyi roro kidul ‘yang menguasai pantai selatan’, perlu dikaji lebih dalam bahwa itu semua adalah bentuk kesyirikan yang nyata, akan tetapi begitu dekat dengan kita.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah saw yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4). Dalam aktifitas dakwah, keteladanan ahlak dari seorang kader tarbiyah (ADK) adalah hal yang mutlak harus dilakukan sebagai upaya untuk membentuk opini keluhuran ahlak islami.

4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim). Bagi seorang kader tarbiyah (ADK) memiliki fisik yang kuat akan menjadi hal utama, karena aktifitasnya akan menuntut itu.

5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Al Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ”pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Apalagi dia adalah seorang kader tarbiyah (ADK) yang harus menyampaikan ilmu keislaman kepada para mad’u (objek dakwah) yang memiliki pengetahuan beragam. Oleh karena itu Allah swt mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)

7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Allah sw memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu bagi seorang kader tarbiyah (ADK) amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik antara aktifitas kuliah dan dakwah. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemandirian usaha)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah swt.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang kader tarbiyah (ADK) tidak diharapkan dan ketiadaannya tidak dirindukan oleh orang-orang disekitarnya. Ini berarti setiap kader tarbiyah (ADK) itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir). -berbagai sumber-

 

***

untuk adik2 tersayang..

(CP. ketum ’04)

02
Des
10

Keutamaan Doa

Teh, as you wish =)

Untuk catatan, hasil berikut diambil dari berbagai sumber (internet). Kontennya memang rawan pertanggungjawaban. Oleh karena itu, feel free memberi komentar untuk perbaikan.

Doa dalam Al Quran

  1. Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu. (QS Al Mukmin:60)
  2. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. (QS Al Baqarah:186)
  3. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (berkuasa) di bumi? (QS An Naml:62)
  4. (Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, ampunilah orang-orang yang bertaubat yang mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, masukanlah mereka kedalam surga-surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka bersama orang-orang yang shaleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS Al Mukmin:7-8)
  5. Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (QS 13:14)
  6. Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. (QS. 42:26)

 

Doa dalam Hadits

  1. Doa seorang muslim untuk kawannya yang tidak hadir dikabulkan Allah. (HR. Ahmad)
  2. Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya’la)
  3. Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dihadapan Allah, selain daripada doa. (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)
  4. Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)
  5. Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang bila dimintai (sesuatu). (HR. Tirmidzi dari Ibnu Majah)
  6. Sesungguhnya doa itu dapat memberi manfaat (bagi pelakunya) untuk sesuatu yang telah terjadi. Maka wahai hamba Allah, lakukanlah doa itu. (HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar)
  7. Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah, kecuali akan dikabulkan doanya, atau dijauhkan suatu keburukan/musibah yang serupa. (HR. Tirmidzi dan Hakim dari Ubadah Ibn Shamit)
  8. Tidak ada seorang muslim pun yang bardoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutuskan hubungan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu dari tiga hal: dikabulkan doanya; ditangguhkan hingga hari kiamat; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa. (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)
  9. Barangsiapa mendoakan keburukan terhadap orang yang menzaliminya maka dia telah memperoleh kemenangan. (HR. Tirmidzi dan Asysyihaab)
  10. Doa itu bermanfaat terhadap sesuatu yang telah turun (terjadi) maupun sesuatu yang belum terjadi, maka kalian wahai hamba Allah- harus berdoa. (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Ibu Umar, Shahihul Jami’ No. 340, Al-Albani berkata, hasan)
  11. Tidak bisa menolak qadha (takdir yang sudah terjadi) kecuali doa, dan tidak bisa menambah umur selain kebaikan. (HR. At-Tirmidzi; hasan, dan di-hasan-kan oleh Al-Albani). Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud adalah, takdir yang tergantung pada doa dan berdoa bisa menjadi sebab tertolaknya takdir karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat, boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknya sesuatu yang lain termasuk takdir. Suatu contoh berdoa agar terhindar dari musibah, keduanya adalah takdir Allah. Boleh jadi seseorang ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan musibah laksana panah. [Mura'atul Mafatih 7/354-355].
  12. Tidak menambah umur kecuali kebaikan, dan tidak bisa menolak qadar (putusan dalam catatan) kecuali doa. Sesungguhnya seseorang itu bisa terhalangi dari rizkinya karena dosa yang telah ia perbuat. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, Adz-Dzahabi dan Al-Iraqi)
  13. Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam. [Al-Haitsami, kitab Majma' Az-Zawaid. Thabrani, Al-Ausath. Al-Mundziri, kitab At-Targhib berkata: Sanadnya Jayyid (bagus) dan dishahihkan Al-Albani,As-Silsilah Ash-Shahihah 2/152-153 No. 601]. Imam Manawi berkata bahwa yang dimaksud dengan ‘Ajazu an-naasi adalah orang yang paling lemah akalnya dan paling buta penglihatan hatinya, dan yang dimaksud dengan Min ‘ajzin ‘an ad-dua’i adalah lemah memohon kepada Allah terlebih pada saat kesusahan dan demikian itu bisa mendatangkan murka Allah karena dia meninggalkan perintah-Nya padahal berdoa adalah perkerjaan yang sangat ringan. [Faidhul Qadir 1/556]
  14. Dari Aisyah ra. bahwa beliau berkata: “Tatkala Rasulullah saw. terkena sihir orang Yahudi bernama Lubaid bin A’sham, beliau berkata sehingga seakan-akan Rasulullah melakukan sesuatu padahal tidak melakukannya hingga pada suatu malam Rasulullah saw. berdoa kemudian berdoa dan terus berdoa”. [Shahih Muslim, kitab Salam bab Sihir 7/14]
  15. Dari Ali bin Abu Thalib ra. berkata bahwa, “Tatkala saya mulai bertempur saat perang Badr saya kembali dengan cepat untuk melihat apa yang dikerjakan Rasulullah saw., ternyata beliau sedang bersujud dan membaca: ‘Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal! Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal!’, kemudian saya kembali bertempur, lalu saya kembali lagi ke tempat Rasulullah, saya temui beliau dalam keadaan sujud, kemudian saya kembali bertempur lalu saya kembali ke tempat beliau dan saya temui masih membaca doa tersebut sehingga Allah memberikan kemenangan”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/78. Dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/98]

 

Pendapat Ulama tentang Doa

  1. Jika Anda berkata, ‘Apa faedahnya doa, sedangkan qadha (putusan takdir) itu tidak bisa ditolak?’, maka ketahuilah bahwasanya termasuk bagian dari qadha adalah menolak bala (petaka) dengan doa. Jadi doa itu merupakan penyebab untuk menolak bala dan untuk menghadirkan rahmat, sebagaimana sebuah tameng yang menjadi penyebab untuk menghalau anak panah, dan air yang menjadi penyebab tumbuhnya tanaman. Maka sebagaimana tameng itu menolak panah, yang berarti saling mendorong, begitu pula antara doa dan bala. (Al-Ihya, 1/328).
  2. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Doa itu adalah satu penyebab yang bisa menolak bala. Jika doa lebih kuat darinya maka ia akan mendorongnya, dan jika penyebab bala yang lebih kuat maka ia akan mengusir doa. Karena itu diperintahkan ketika ada gerhana dan bencana besar lain untuk shalat, berdoa, beristighfar, sedekah dan memerdekakan budak. (Al-Fatawa, 8/193)
  3. Ibnul Qayyim berkata, “Doa termasuk obat yang paling bermanfaat, ia adalah musuh bala, ia mendorongnya dan mengobati, ia menahan bala atau mengangkat atau meringankannya jika sudah turun.”
  4. Ibnul Jauzi berkata, “Ketahuilah bahwa doa orang mukmin itu tidak akan ditolak, hanya saja terkadang yang lebih utama baginya itu diundur jawabannya atau diganti dengan yang lebih baik dari permintaannya, cepat atau lambat.” (Fathul Bari, 11/141)
  5. Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk penyakit yang menghalangi terkabulnya doa adalah tergesa-gesa, menganggap lambat pengabulan doanya sehingga ia malas untuk berdoa lagi. Padahal bisa jadi antara doa dan jawabannya memerlukan waktu 40 tahun, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas.” (Abu Laits As-Samar-qandi dalam Tanbihul Ghafilin)
  6. Syaikh Al-Mubarak Furi mengatakan bahwa Syaikh Al-Qari berkata, “Yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah tidak melihat hasil doa saya. Terkadang merasa doanya lambat dikabulkan atau putus asa dari berdoa dan keduanya tercela. Perlu diketahui, ada waktu tertentu untuk terkabulnya doa, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa doa Musa dan Harun agar Fir’aun dihancurkan oleh Allah baru terkabul setelah empat puluh tahun. Adapun berputus asa dari rahmat Allah tidak akan terjadi kecuali atas orang-orang kafir.” [Mura'atul Mafatih 7/348]
  7. Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa di dalam hadits di atas terdapat etika berdoa yaitu terus mengajukan permohonan dan tidak berputus asa dalam berdoa sebab demikian itu merupakan bagian dari sikap ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah serta merasa membutuhkan Allah, oleh karena itu sebagian ulama salaf berkata, “Kami lebih takut dihalangi untuk berdoa daripada dihalangi terkabulnya doa.”
  8. Imam Ad-Dawudi berkata, “Dikhawatirkan orang yang mengatakan bahwa dia selalu berdoa tetapi tidak dikabulkan maka doanya benar-benar tidak dikabulkan, atau benar-benar tidak dikabulkan penangguhan siksa akhirat atau pengampunan dosa-dosanya.”

 

Waktu-waktu Utama untuk Berdoa

  1. Rasulullah saw. ditanya, “Pada waktu apa doa (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?” Rasulullah saw. menjawab, “Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam). (Mashabih Assunnah)
  2. Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah ‘Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : “Adakah orang yang berdoa kepada-Ku akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?” Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)
  3. Doa yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)
  4. Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan doa orang yang dizalimi (teraniaya). Doa mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, “Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.” (HR. Tirmidzi)
  5. Tiga macam doa dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan doa seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
  6. Ambillah kesempatan berdoa ketika hati sedang lemah-lembut karena itu adalah rahmat. (HR.Ad-Dailami)
  7. Hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, ketika sujud, ketika sakit, ketika minum air zam-zam.

 

Adab-adab Berdoa

  1. Berdoa dan memohon sesuatu hanya kepada Allah swt.
  2. Ikhlas karena Allah swt. (QS Al Mukmin:14 dan Al Bayinnah:5)
  3. Tadharru’ (merendahkan diri), raghbah (berharap dikabulkan), dan rahbah (rasa takut tidak dikabulkan), khusyu’ (QS Al Anbiya:90).
  4. Makanan, minuman, dan pakaian diperoleh dengan halal. Seperti pada hadits, “Ada seseorang yang sudah lama dalam safar (perjalanan) dengan rambut kusut dan (tubuh) penuh debu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata, ‘Ya Rabb, ya Rabb…’, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram, bagaimana mungkin (doanya) dikabulkan?” (HR. Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi).
  5. Berwudlu sebelum berdoa (jika memungkinkan).
  6. Menghadap kiblat, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam doa istisqa’ (minta hujan) yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dengan judul bab berdoa menghadap kiblat.
  7. Menghadirkan hati dalam berdoa. Seperti pada hadits berikut, ‘Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa doamu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang hatinya lalai dan lengah.’ (HR. Ahmad)
  8. Mengangkat kedua tangan dalam berdoa, seperti pada hadits, ‘Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hambaNya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa.’ (HR. Al Hakim)
  9. Merendahkan suara ketika berdoa (QS Al A’raaf:55).
  10. Mengawalinya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah swt., lalu diikuti dengan bacaan shalawat kepada Rasulullah saw. dan diakhiri dengannya. Seperti pada hadits, “Jika salah seorang di antara kamu berdoa, hendaknya memulai dengan memuji dan menyanjung Tuhannya, dan bershalawat kepada Rasulullah saw., kemudian berdoa apa yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad, di-shahih-kan oleh Al-Albani) dan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu pernah berdoa, ia memulai dengan tahmid, kemudian bershalawat, kemudian diteruskan dengan doa untuk kebaikan dirinya. Maka Nabi berkata: “Mintalah pasti kamu diberi, mintalah pasti kamu diberi.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih, dan Abdul Qadir Al-Arnauth berkata, sanad-nya hasan).
  11. Mengakui dosa yang telah diperbuat dan bertaubat atasnya serta mengakui nikmat yang telah didapat dan bersyukur atasnya.
  12. Tawassul kepada Allah dengan asma’ul husna atau sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, atau dengan amal shalih yang pernah dikerjakan sendiri, atau dengan doa seorang shalih yang masih hidup dan berada di depannya.
  13. Mendoakan diri sendiri sebelum mendoakan orang lain.
  14. Ali Ra berkata, “Rasulullah Saw lewat ketika aku sedang mengucapkan doa : “Ya Allah, rahmatilah aku”. Lalu beliau menepuk pundakku seraya berkata, “Berdoalah juga untuk umum (kaum muslimin) dan jangan khusus untuk pribadi. Sesungguhnya perbedaan antara doa untuk umum dan khusus adalah seperti bedanya langit dan bumi.” (HR. Ad-Dailami)
  15. Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan doa dan yakin doanya akan dikabulkan Allah swt. Seperti pada hadits, “Mohonlah kepada Allah sementara kamu sangat yakin untuk dikabulkan, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan bermain-main.”(HR. At-Tirmidzi, dihasan kan oleh Al-Mundziri dan Al-Albani)
  16. Penuh kerendahan dan tidak terburu-buru dalam berdoa, seperti pada hadits, “Akan dikabulkan bagi seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata, ‘Saya telah berdoa tetapi tidak dikabulkan’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  17. Bermohonlah kepada Rabbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya Allah berfirman (hadits Qudsi): “Barangsiapa berdoa (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan doanya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunan-Ku maka Aku ampuni dosa-dosanya.” (Ar-Rabii’)
  18. Apabila kamu berdoa janganlah berkata, “Ya Allah, ampunilah aku kalau Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki dan berilah aku rezeki kalau Engkau menghendaki.” Hendaklah kamu bermohon dengan kesungguhan hati sebab Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya dan tidak ada paksaan terhadap-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)
  19. Jangan mendoakan keburukan (mengutuk) dirimu atau anak-anakmu atau pelayan-pelayanmu (karyawan-karyawanmu) atau harta-bendamu, (karena khawatir) saat itu cocok dikabulkan segala permohonan dan terkabul pula doamu. (Ibnu Khuzaimah)
  20. Tidak membebani diri dalam membuat sajak dalam berdoa.
  21. Tidak berdoa untuk suatu dosa atau memutus silaturahim.
  22. Mengembalikan (hak orang lain) yang didzalimi disertai taubat.
  23. Menjauhi segala bentuk kemaksiatan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Seperti pada hadits, “Hendaknya kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan siksaNya kepada kalian, lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankannya)
  24. Tidak berlebih-lebihan dalam berdoa.
  25. Memanjatkan doa tiga kali.

Wallahua’lam.

 

 

***

dari mas Gan sayang..

jazakillahuahsanuljaza..

Allah tau yang terbaik buat kita..

wataqullah mastatho’tukm kul ‘amantu billah tsumastaqom




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.