24
Nov
09

Peristirahatan, Bernama Terminal Canda

Kami mengayuh kaki dari waktu ke waktu. Kami juga mempercepat langkah untuk mencapai target yang kami capai. Terkadang kami bahkan harus berlari untuk tuntutan da’wah yang tak mungkin di tunda-tunda lagi. Tubuh kami pun mengeluarkan peluh, merasakan kepenatan dan keletihan. Barangkali, ada juga di antara kami yang bukan hanya meneteskan peluh keringat karena lelah, tapi, tetesan air mata, bahkan barangkali darah, yang harus dikeluarkan untuk kepentingan tujuan da’wah yang kami perjuangkan di jalan ini.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang melelahkan. Dan karenanya sudah tentu menguras tenaga. Bukan hanya sebatas fisik, tapi pasti juga menguras energi jiwa dan pikiran kami. Tapi kelelahan kami di jalan ini adalah soal biasa yang sangat terkait dengan kemanusiaan kami yang memang mempunyai batas dan kadarnya sendiri.

Maka, kamipun membutuhkan terminal-terminal peristirahatan di jalan ini. Tempat kami merasakan kegembiraan bersama, melepas ketegangan, dan meregangkan otot dan sendi-sendi. Bak peristirahatan seorang prajurit, menurut Syaikh Jasim Muhalhil Al Yasin. Prajurit yang membutuhkan rentang waktu tertentu untuk beristirahat dan selanjutnya kembali ke medan laga. Salah satu terminal peristirahatan yang bisa menggiatkan kami kembali untuk melanjutkan perjalanan adalah, terminal canda.

Di jalan ini, kami mempunyai ruang untuk tersenyum dan tertawa. Inilah salah satu bumbu kebersamaan yang kami butuhkan untuk menumbuhkan kembali semangat kami. Sebagaimana dahulu, Rasulullah SAW pun memiliki ruang-ruang canda dan tertawanya sendiri dengan para sahabatnya. Hingga Imam As Suyuthi bahkan menyebutkan salah satu sifat Rasulullah dengan istilah ‘Addhahuuk Al Qattaal’ yakni orang yang sering tersenyum tapi kerap mampu berperang. Artinya, Rasulullah SAW adalah pribadi yang tetap bergembira, senang, ceria, meski sesungguhnya ujian yang ia hadapi bisa sangat menguras energi keceriaannya. Abdullah bin Harits juga menyampaikan bahwa dirinya belum pernah mendapati seseorang yang sering tersenyum kecuali Rasulullah SAW.

Keseriusan para sahabat dalam berda’wah dan berjihad, besarnya perhatian para salafushalih dalam memerangi kemungkaran dan menekuni ilmu, juga tidak menjadikan mereka bak orang yang tak mengenal senyum dan tertawa. Itu sebabnya, dalam riwayat yang menceritakan tentang Ibnu Sirin, Asy Sya’bi mengatakan, “Ia adalah orang yang gemar bercanda dan tertawa sampai terlihat gigi-giginya.”

Meski demikian, catatan perjalanan para salafushalih itu bukan berarti porsi canda dan gurauan menjadi dominan dalam kehidupan mereka. Mereka sekali lagi, adalah orang-orang yang mampu menempatkan sikap-sikap itu sesuai kebutuhannya. Karena itu, Asy Sya’bi juga mengatakan, ‘Ibnu sirin adalah orang yang banyak tertawa di siang hari, tapi banyak menangis di malam hari.’

Menempuh perjalanan da’wah, meninggalkan pelajaran pada kami tentang kebutuhan jiwa untuk beristirahat dan tertawa, namun tetap pada porsi dan batasan etikanya. Pertemuan kami dengan sesama saudara di jalan ini, hampir selalu diwarnai dengan senyum dan tertawa. Meskipun begitu, pembahasan yang memerlukan keseriusan berpikir dan ketegasan berpendapat, tidak tergangguoleh dinamika canda dan tertawa kami. Kami merasakan , canda-canda yang berkembang di antara kami bisa memberi energi baru yang mencerahkan jiwa dan pikiran. Bahkan bisa juga berfungsi untuk menghilangkan kebekuan, mencairkan hubungan, mendekatkan kembali ikatan batin yang mungkin saja mulai ternoda oleh debu perjalanan. Senyum dan tertawa, memberikan kesejukan tersendiri dalam ruang kebersamaan kami di jalan ini.

Kami ingin senyum dan tawa dalam kebersamaan ini seperti yang dikatakan Ibnu Umar ra tentang sahabat Rasulullah SAW. Ketika ia ditanya, ‘Apakah para sahabat Rasulullah SAW itu tertawa?’ Ibnu Umar menjawa, ‘Ya, mereka tertawa, tapi keimanan dalam hati mereka laksana gunung yang kokoh.’

Ya.. ALLAH..

Apakah aku termasuk seperti “Ibnu Sirin”??

Iklan

0 Responses to “Peristirahatan, Bernama Terminal Canda”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: