29
Jan
10

Rencana Allah, kemudian rencana kita

Para pencinta sejati tak suka berjanji,
Tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai,
Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi..
(M. Anis Matta)

Rutin, beberapa kali dalam setahun ‘Abdurrahman ibn ‘Auf membagi-bagikan hartanya untuk seluruh penduduk Madinah. Biasanya kisaran angkanya mencapai 40.000 dinat sekali bagi. Jika harga emas di tahun 2008 sekitar Rp. 250.000/gram dam 1 dinar adalah sekitar 4,25 gram emas, maka jumlah sgadaqah ‘Abdurrahman ibn ‘Auf dalam sekali kesempatan ternyata fantastis; 42,5 milyar rupiah.

Yang lebih membuat orang-orang heran pada suatu hari adalah bahwa ‘Utsmanibn ‘Affan, jutawan besar itu, ikutan-ikutan antri dan mengambil bagiannya. Orang-orang pun berebut menanyainya, “Hai ‘Utsman, bukanlah engkau orang yang sangat kaya? mengapa masih saja mengambil bagianmu?”

“Harta ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, kata ‘Utsman sambil senyum, “Adalah harta yang barakah. Bagaimana mungkin akumelewatkan kesempatan untuk mengisi perut keluargaku dan mengaliri darah kami dengan harta yang diberkahi Allah dan didoakan oleh Rasulullah?”

Subhanallah.. Bagaimana kisah tentangnya bermula?

***
‘Abdurrahman ibn ‘Auf datang ke Madinah, muda dan tanpa harta. Sa’d ibn Ar Rabi’, seorang Anshar yang dipersaudarkan kepadanya segera berkata, “Saudaraku terkasih di jalan Allah, sesungguhnya aku termsuk orang berharta di Madinah ini. Aku memiliki dua buah kebun yang luas. Di antara keduanya pilihlah yang kau suka, dan ambillah untukmu. Aku juga memiliki dua rumah yang nyaman, pilihlah mana yang kau suka, tinggallah di sana. Dan aku memiliki dua orang isteri yang cantik-cantik. Lihatlah dan pilihlah salah satu diantaranya, pasti akan kuceraikan lalu kunikahkan denganmu.”

Pemuda Makkah itu tersenyum. Lalu dengan lembut ia berkata, “Terimakasih atas segala kebaikanmu, Saudaraku. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Sebaiknya, tunjukkanlah saja padaku jalan ke pasar.” Dalam bayangan saya, Sa’d ibn Ar Rabi’ adalah penduduk Madinah, yang sebagaimana penduduk Madinah yang lain sangat memandang tinggi arti pernikahan. Seorang lelaki belumlah utuh menjadi lelaki, jika ia belum beristri. Maka dia pun mendesak, “Tetapi, setidaknya menikahlah..”

“Insya allah, dalam sebulan ini saya akan menikah.”, ujarnya. Dan padanya ditunjukkan jalan ke pasar. Menjadi kuli di hari pertama, lalu menjadi makelar di hari kedua. Di hari ketiga dia menahbuskan diri sebagai pedagang paling jujur, informatif tentang produknya, cerdas menggulirkan kas, juga suci dalam menakar dan menimbang. Ia menjadi ‘komandan’ sang Nabi untuk melaksanakan Surat Al Muthaffifin yang turun menjelang hijrah. Ia menjadi panglima dalam membasmi hegemoni ekonomi riba ala Yahudi di pasar Madinah.

Dan benar, sebulan kemudian ia datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan pakaian penuh noda minyak ‘khaluq’. “Saya menikah ya Rasulullah!”, ujarnya tersipu.
“Dengan siapa?”
“Seorang wanita Anshar.”
“Apa maharnya?”
“Emas seberat biji kurma,”
“Wahai ‘Abdurrahman, selenggarakan walimah meski dengan seekor kambing!”

***
Pelajaran menarik dari kisah ‘Abdurrahman ibn ‘Auf adalah
Pertama,
bahwa seorang muslim itu mulia. Maka bantuan yang halal baginya, ia tinggalkan untuk meraih sesuatu yang lebih besar ; etos kerja jihadi. Jika dipikir-pikir tentu saja memulai dagang dengan modal sebuah rumah, sebidang kebun, dan seorang isteri jauh lebih menjanjikan dibanding tangan kosong yang nekad ke pasar. Tetapi fasilitas yang diperturutkan, bagi orang-orang seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf dan para peniti jalan cinta pejuang adalah beban, penyakit, sekaligus pintu kekalahan.

Thariq ibn Ziyad melukiskannya sebagai kapal-kapal yang ditumpangi pasukannya ketika menyerbu Spanyol. “Kapal itu”, katanya, “Adalah pintu kekalahan kita. Jika kita membiarkannya ada, dalam hati kita akan terbit keinginan untuk melarikan diri saat kekuatan musuh menggentarkan. Dengan membakarnya, kita hanya memiliki dua pilihan; memenangkan tanah Andalusia yang indah untuk kejayaan Islam, atau memenangkan bidadari bermata jeli yang menyongsong dengan wajah berseri.”

Kedua,
‘Abdurrahman ibn ‘Auf memasuki pasar Madinah dengan sebuah konsep yang jelas tentang ekonomi yang adil dan menenteramkan; Surat Al Muthaffifin. Dengan konsep Ilahiah itu dia mengedipkan mata untuk mencekik warga Madinah dengan ekonomi ribawi. Surat Al Muthaffifin ini, kita sebut sebagai rencana manhaji dari Allah SWT.

Ketiga,
Kesuksesan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf ditopang oleh perencanaan pribadinya yang jeli, cermat, dan bening. Menikah dalam waktu sebulan sejak kedatangannya ke Madinah misalnya, adalah capaian menarik dari perencanaan itu. Segala kesuksesan ‘ Abdurrahman ibn ‘Auf adalah kesuksesan da’wah. Kesuksesan itu sudah ada dalam rencana Allah yang disebut takdir. Tetapi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf membuat perencanaan-perencanaan dengan tertata, untuk menyesuaikan dirinya dengan rencana Allah. Baik rencana manhaji, maupun rencana yang tersembunyi.

Kita merencanakan, untuk menyesuaikan diri dengan rencana Allah (Hilmi Aminuddin)

Kemenangan Islam, kemenangan da’wah adalah rencana Allah. Tugas kita di jalan cinta para pejuang adalah membuat rencana-rencana untuk menyesuaikan diri dengan rencana Allah itu. rencana adalah niscaya. Di jalan cinta pejuang, berkumandang kalimat ‘Ali ibn Abi Thalib, “Kebenaran yang tak terencana, akan terkalahkan oleh kebhatilan yang tertata.”

***
Kalau akhirat sudah menjadi visi dengan kalam-kalam Ilahi yang kita baca, dan kematian juga bisa dicita-citakan, bagaimana dengan hidup? Subhanallah, tentu saja. Jika akhirat yang begitu agung, jika kematian yang begitu rahasia; jika dua hal ini bisa digambarkan dengan gamblang dalam benak dan menjadi cita nyata; tentu kehidupan juga berhak kita perlakukan dengan cara sama. Ia harus diisi cita-cita. Ia harus tersusun atas rencana-rencana.

“Ya Rahman, ajarkan kami untuk tiada pernah putus asa dari kasih Mu, ajari kami untuk selalu berharap yang terbaik dari Mu, ajari kami untuk berani bercita-cita dan merencanakan hidup yang indah bersama orang-orang mulia.”

Ikhwah Fillah..
Sekelam apapun langit semalam, hidup kita esok, jodoh kita esok, rizqi kita esok, semuanya boleh direncanakan. Dan di jalan cinta para pejuang, akan kita ganti kata ‘boleh’ dengan kata ‘harus’ atau ‘wajib’.

“Kau cipatakan malam, aku nyalakan pelita”
“kau ciptakana lempung, kubentuk piala”
“Kau ciptakan belantara, kutata taman bunga”

(Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah)

Iklan

0 Responses to “Rencana Allah, kemudian rencana kita”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: