29
Jan
10

Tsiqah, sebagai maharnya..

Ketsiqahan (kepercayaan/keyakinan) adalah anasir penting bagi kami dan saudara-saudara kami untuk menepuh perjalanan ini. Tsiqah yang kuat membuat kami secara bersama-sama mampu membuahkan kerja-kerja da’wah yang baik. Dan tanpanya, tak ada amal da’wah yang baik yang bisa kami hasilkan. Kami menyebutnya sebagia mahar dalam perjalanan ini. Sebagaimana mahar yang harus ditunaikan bagi calon suami dan istri saat mereka ingin mengarungi bahtera kehidupan yang lebih luas bersama-sama. Mahar tsiqah di jalan ini, harus ditunaikan bersama-sama antara kami dengan qa-id (pemimpin) kami di jalan ini.

Perbedaannya, jika mahar dalam perkawinan hanya merupakan kewajiban sang suami untuk bisa menjadikan seorang wanita sebagai istrinya, maka mahar tsiqah dalam jalan da’wah ini harus ditunaikan kedua belah pihak, baik anggota maupun pemimpin. Anggota harus menunaikan mahar tsiqah kepada pemimpinnya. Pemimpin juga harus memberikan mahar tsiqah pada anggotanya. Bila itu sudah terpenuhi, maka langkah demi langkah pun akan bisa menapaki perjalanan ini dengan hasil-hasil yang baik. Guru kami, Hasan Al Banna mengistilahkannya dengan kalimat tsiqah mutabadillah, atau tsiqah secara timbal balik antara anggota dan pemimpin dan sekitarnya.

Prinsip yang harus kami pegang dalam mewujudkan tsiqah ini salah satunya adalah sabda Rasulullah “Berbahagialah seorang hamba yang memegang kendali kudanya, kusut masai rambutnya dan berdebu kakinya.jika berjaga ia tetap berjaga. Jika bertugas di belakang ia tetap di belakang. Ketika meminta izin tidak diberi izin dan ketika member bantuan tidak diperkenankan.” (HR. Bukhari)

Hadits ini mengajarkan salah satu prinsip utama dalam menumbuhkan tsiqah. Di dalamnya, tergambar wujud tsiqah antara pemimpin dan anggota. Sang pemimpin merasakan tsiqah dengan anggotanya yang pasti akan menempatkannya pada posisi tertentu untuk kemaslahatan. Siapapun harus bersyukur kepada Allah atas posisi dan peran apapun yang dilakoninya di atas jalan da’wah.

Buah tsiqah timbal balik ini, bagi anggota dalah ketaatan. Patuh dan taat terhadap pemimpin, selama tidak memerintahkan kepada perbuatan dosa adalah konsekuensi logis dalam berjama’ah sementara buah tsiqh timbal balik bagi qa-id adalah ketenangan dan keyakinan bahwa sebuah amanah da’wah bisa berjalan dengan baik. Sebagaimana perhatian dan pengertian pemimpin terhadap keadaan anggotanya menjadi kewajiban sang pemimpin.

Untuk itulah pemimpin sudah seharusnya, untuk menjaga keterpaduan dirinya dengan anggotanya, dengan melibatkan mereka dalam proses syuro untuk mendapatkan keputusan yang terbaik. Dan keputusan syuro itulah yang harus dipegang oleh semuanya, dan dijalani dengan sukarela atau terpaksa.

Cukuplah kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita tentang ketidaktundukan pasukan kepada pemimpin mereka. Anggota harus rela menjadi batu bata dan ditempatkan di mana saja. Menjadi batu bata yang unik dan khas untuk mengisi kekosongan bangunan da’wah ini, dengan mensinergikan kemampuannya dengan saudara-saudara yang lian.
Jika kesatuan umat ini dibangun dengan mempersatukan keyakinan, mempersatukan hati, mempersatukan niat, mempersatukan tujuan, dan mempersatukan manhaj (jalan hidup), yang semuanya mengacu pada Al-Qur’an dan As Sunnah, maka kebangkitan dan kemenangan umat Islam akan semakin dekat kita raih.

Wallahu’alam bish shawab.
salam
al_fikriyah (si koleris-melankolis)
^^

Iklan

0 Responses to “Tsiqah, sebagai maharnya..”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: