11
Feb
10

Saat Dakwah Tidak Berkah

Semalaman Bejo duduk sendiri di atas sajadah hijau. Dia menghabiskan malam di dalam alam pikiran dan perenungan. Apa yang sedang menimpa dirinya? Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Dia memerlukan jawaban yang bisa menuntaskan banyak pertanyaanyang mengganggu batin dan jiwanya.

Mengapa berakhir seperti ini? Sebuah perjalanan dakwah yang dilaluinya lebih dari 10 tahun, kemudian harus berakhir tragis. Di atas sajadah itu, ia mencoba menyesali berbagai kebohongan yang pernah dilakukannya. Kebohongan yang akhirnya berbuah ketidakpercayaan seluruh ikhwah kepadanya. Ia sangat menyesal kenapa dulu ia begitu asyik melakukan itu, tanpa sadar akan bahaya yang menimpa kelak. Ia ingat bagaimana dulu sering melalaikan janji, melupakan “hutang ucapan” kemudian hanya memberikan kata, “afwan akhi, ana lupa!” tanpa ada konsekuensi moral setelah itu. Padahal saat pelaksanaan janj, ia hanya beralih kepada hal-hal sepele, sambil sengaja mematikan handphone demi mencegah “serangan pertanyaan” yang pasti datang.

Ia juga ingat bagaimana ketidakpercayaanikhwah itu memuncak. Terutama saat ia gagal menanggung amanah sebuah acara berskala nasional. Padahal saat itu, ia dipercaya sebagai event organizer. Meski ia sadar terpilihnya ia menjadi EO acara tersebut lebih karena nepotisme. Sebab ia tidak memiliki konsep yang luar biasa saat presentasi. Ia sangat menyesal mengapa amanah itu tidak ditunaikan dengan baik. Padahal ia dimodali uang cukup besar untuk menjalankan acara tersebut. Belum lagi hasil dari penjualan tiket peserta dan sponsor. Ah, kemana semua uang itu menguap? Ia juga tidak tau pasti. Kini, ia hanya mencoba bersembunyi dari kejaran rasa bersalahnya. Hidup tanpa handphone yang dulu pernah menjadi ‘ladang uang’ dan rumah yang mesti berpindah-pindah. Ia takut bila harus mempertanggung jawabkan semuanya.

Tak terasa airmata mengalir. Bejo kini hidup tanpa pekerjaan yang pasti. Padahal dulu ia diakui memiliki kafaah menulis yang lumayan. Menjadi seorang reporter di majalah Islam ternama. Namun ia sering melalaikan tugas. Deadline menjadi mundur, majalah menunda terbitan. Semua berlarut, direksi tidak mau rugi, ia dipecat!

Kini, semua tidak ada yang mau mempercayainya lagi. Seperti api yang disulut bensin, namanya menjadi catatan buruk. Bahkan orang yang tidak kenal sekalipun memperbincangkannya. Menjadi pelajaran di forum-forum tausiyah. Ingin sekali ia mengganti nama atau mengoperasi plastik wajahnya agar semua orang tidak mengenalinya lagi. Ia butuh pekerjaan, ia butuh penghasilan untuk menghidupi keluarga sejak ditinggal ayahnya, tapi?

Dimana pula Saraswati? Seorang akhwat yang hampir dinikahinya. Kalau saja tidak ada semua ini. Kalau saja ia tidak kehilangan pekerjaan. Kalau saja ia bisa menyelesaikan tugas tepat waktu. Kalau saja ia tidak melarikan uang. Kalau saja ia tidak berbohong. Kalau saja ia tidak melupakan janji. Kalau saja.. kalau saja.. kalau saja waktu bisa diputar ulang. Mungkin kini ada Saraswati yang akan setia disisinya.

Mengapa dakwah tidak berbuah berkah? Bagi Bejo, sebuah jawaban masih menggantung di langit-langit. Jawaban yang harus menuntaskan semua pertanyaan yang menggumpal di dalam dada Bejo.

Ia terus menikmati malam dalam perenungan. Potongan-potongan ketas berserakan di lantai. Ia belum sempet membersikannya. Sepotong surat dari sahabat dekat. Sore tadi saat kemarahannya masih memuncak ia merasa tersinggung dengan isi surat itu. Sekumpulan nasihat yang hanya menyakitkan hati. Perhatian Bejo mulai beranjak kepada potongan kertas agak besar. Ia memuat sejumlah kata yang terangkai. Cabikan Bejo rupanya tidak cukup kuat untuk menyobeknya tadi. Kata-kata itu masih terangkai sempurna sebagaimana saat awal ditulis. Bejo mulai membacanya, “Apabila hawa nafsu sudah dominan, maka hati akan menjadi gelap. Apabila hati sudah gelap, maka dada akan menyempit. Apabila dada sudah menyempit maka akhlak akan buruk. Apabila akhlak sudah buruk maka makhluk akan membencinya.” (Abu Bakar Hakim al-Warraq). Bejo terperanjat, “Ya ALLAH…!”

Malam masih diam menyelimuti bumi. Ia masih setia menemani Bejo yang sendiri dalam perenungan.

[al-izzah/saat dakwah tidak berkah]

Iklan

2 Responses to “Saat Dakwah Tidak Berkah”


  1. 1 gantina
    Februari 12, 2010 pukul 3:07 am

    “Apabila hawa nafsu sudah dominan, maka hati akan menjadi gelap. Apabila hati sudah gelap, maka dada akan menyempit. Apabila dada sudah menyempit maka akhlak akan buruk. Apabila akhlak sudah buruk maka makhluk akan membencinya.” (Abu Bakar Hakim al-Warraq).

    wah, cocok untuk dijadikan kamut bulan depan^^

  2. Februari 12, 2010 pukul 5:11 am

    monggo..
    semoga bermanfaat..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: