13
Feb
10

Aktivis Bertopeng

Kesadaran itu penting. Sebab selalu saja ada orang yang berputar dalam kebaikan, dikelilingi orang-orang yang baik, melakukan amal-amal yang baik, tapi terjebak dala keburukan. Merekalah duri dalam daging. Merekalah noda dalam kanvas yang indah. Merekalah penyebab berkah menghilang. Mereka begitu karena kesadaran tercabut dari dirinya.

“ah masa sih?” dia kan aktif dalam dakwah. Kayaknya nggak mungkin deh. Dia bukannya termasuk yang kerjanya bagus. Kalau bukan ente yang ngomong nih, ana pasti nggak akan nanggapi. Terus terang sulit untuk dipercaya. Tapi ente lihat sendirikan…?” seorang ikhwan, sebut saja Fahri menanggapi cerita temannya.

“Wallahi akhi, ana lihat sendiri. Makanya ana juga kaget. Anakan lagi ke warnet ngirim proposal ke ikhwah Kalimantan. Nah nggak sengaja waktu ane melintas, terlirik monitornya. Astagfirullah gambarnya…, ane piker bodo amat, orang iseng paling. Tapi rasanya ane kenal dengan gayanya. Pas ane perhatiin ternyata benar, akh fulan. Ya udah ane tepok, ane salamin sambil senyum, tapi sambil jalan aja sekalian bayar. Nah dia itu, wajahnya..merah dan kaget. Dekat-dekat shok gitu deh. Tapi ane cuekin. Ya udah ane tinggal.” Azzam menjelaskan dengan semangat.

“Ya Allah, baru kemaren kita ditaujih sama Ustad.” Fahri merenung, matanya menerawang. Terngiang kembali nasihat Ustad di wilayahnya, “Ikhwah fillah, sesungguhnya berhati-hatilah dengan kelalaian. Sesungguhnya setan senantiasa menghembus-hembuskan kelalaian itu dalam diri kita. Sesungguhnya setan menggambarkan dosa kecil sebagai hal-hal yang biasa saja, tak ubahnya seperti llat yang hinggap di hidung. Dengan mudah kita halau. Menghilangkan keresahan dan kekhawatiran dalam diri kita ketika melakukannya. Lalu kita terbiasa dengannya.

Kemudian kita bingung dengan dakwah yang selalu berhimpitan dengan masalah. Kita mengurai masalah pada sistem kerja dan manajemen lapangan. Kita membuat analisa dan terapi teknis. Tapi kita lupa, dakwah kita beriringan dengan dosa-dosa yang dijauhi dan ditakuti para sahabat Rasul. Dosa-dosa yang secara matematis kita hitung sebagai dosa kecil. Yang entah mengapa membuat kita merasa aman karena ia sekedar ‘dosa kecil’. Padahal sesungguhnya Allah tidak pernah membuat klasifikasi tingakatan dosa.

Kita lupa bahwa Allah memiliki kuasa jauh dari apa yang bisa kita hitung secara matematis atas upaya kita. Kita lupa bahwa ada rahmat, ada berkah, ada kebahagiaan lainyang tidak bisa dianalisa dengan semua perangkat kuantitatif yang kita punya. Inilah yang sering kita lalaikan. Jadi jika masih saja kita terlena dalam kelalaian masih saja kesadaran kita tersaput istilah dosa-dosa kecil, maka jangan bingung dengan masalah yang seolah tidak pernah surut menghadang jalannya dakwah. Sangat mungkin berkah Allah dicabut dari semua aktivitas dakwah yang kita lakukan, na’udzubillah.”

Fahri tersadar dari perenungannya. “Akh Furqon, ente pernah denger ga istilah “menyamar dalam kebaikan”, kira-kira seperti itulah kita semua yang berputar dalam dakwah ini, tapi masih tetap terlena dengan kelalaian yang banyak. Semoga Allah berkenan memberikan kesadaran yang menghidupkan bagi ana dan ente. Jadi kita tidak menambah daftar ikhwah-ikhwah yang menyamar.” Ungkap Fahri galau.

Positif Menyimpan Negatif

Sudah menjadi anugerah bagi kita, diperkenalkan oleh Allah kebaikan dan kefujuran. Kita juga bersyukur diberikan hati yang tidak pernah ingkar dengan kebaikan. Setiap lisan kita tergelincir dalam kelalaian, hati kita pasti akan memberikan ingatan atasnya. Makanya meminta fatwa kepada hati selalu dinasihatkan sebagai pilihan atas permasalahan yang masih meragukan. Sesungguhnya dosa membuat hati gelisah, sedangkan kebaikan membuat hati tenang dan damai.

Kita hidup dalam dunia yang menjebak keimanan. Kita berputar dalam setting yang melemahkan penghambaan. Maka sangat mungkin kita terlarut dan menjadi biasa dengan kemungkaran. Untuk itulah kita memilih dakwah dan pembinaan sebagai aktivitas diri kita. Untuk itulah kita bersungguh-sungguh berhimpun dengan kebaikan dan orang-orang yang baik. Dan itulah mengapa kita bangga dengan sebutan ikhwan dan akhwat bagi diri-diri kita. Agar kita mampu bertahan pada arus yang berbeda dalam pusaran hidup ini. Arus yang membawa kita ke muara kebaikan dan kebahagiaan.

Sangat manusiawi dalam proses interaksi terjadi saling mempengaruhi. Dan kita pun tidak akan pernah bisa menjadi steril dari cemaran kejahiliyyahan di sekitar kita. Akan tetapi, jika kita dengan tidak berdaya menerima semua cemaran kebodohan hidup yang ada, maka tidak berartilah komitmen dakwah yang kita kumandangkan. Bukankah kita berhimpun dengan dakwah untuk membuat perubahan. Kita berhimpun dengan dakwah karena kita berpengetahuan.

Hanya saja, dalam perputaran kehidupan dan dakwah ini, masih ada bagian dari kita, kader-kader dakwah yang melemah. Semangat pertarungan yang sedikit, membuat kita malas melakukan perlawanan terhadap kelemahan diri. Segenap nasihat tidak membuat perubahan berarti dalam arti dalam diri kita. Kita berputar dalam kebaikan, berinteraksi dengan orang-orang yang insyaallah baik, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang baik, namun dengan membawa segenap keburukan diri kita. Inilah yang dimaksud dengan ‘positif menyimpan negatif’.

Diantara kita ada pemalasyang tampil mujahid militan, ada pelontar gagasan yang mudah bosan dan lepas tanggung jawab. Kita akan menjumpai sikap yang santun kepada yang tua, namun memandang rendah kepada yang lebih muda. Bahkan ada kader-kader yang naf’I, pemburu kepentingan yang menghindari tugas jama’ah, tetapi prima di medan bergemilang dunia, dan tampil sebagai public relation yang meyakinkan.

Sebaiknya kita segera sadar. Bahwa dalam perniagaan dakwah ini, Allah tawarkan puncak dari tawaran keuntungan. Kehidupan yang selamat dari azab yang pedih dan komitmennya di tukar dengan rahmat surga Allah. Tentulah kita tidak akan salah menilai tawaran matematis yang luar biasa seperti ini, kecuali diantara kita yang berhati pekat dan bernalar dangkal. Semoga Allah mengampunkan kelemahan kita.

Berkah yang Terhijab Dosa

Seorang ikhwah, untuk tujuan taakhi, menyempatkan diri menginap di rumah ‘akhi’ nya. Dengan segenap harapan dibawanya semangat belajar untuk mengambil manfaat bermukim bersama. Namun apa yang didapatkannya sangat mengejutkan. Segenap kelalaian seolah membilas semua kesan keutamaan yang dimilikinya. Pandangannya dalam diskusi yang dilakukan, laksana mobil tanpa rem, bebas menabrak hal-hal yang menurut ukuran aktivis dakwah lazim dihindari. Akhirnya kembalilah ia dengan segenap kekecewaan.

Hal-hal sederhana terlontar dari lisan ikhwah tersebut, “waktu luangnya habis di depan tv dengan tayangan yang tidak produktif. Nafilahnya sangat sedikit. Ibadahnya tidak tertakar standar aktifis dakwah. Lebih banyak bergurau daripada membaca atua kegiatan produktif lainnya. Lemah hubungannya dengan Allah, karena kontinuitas yang tidak terjaga. Baiklah kiranya kita menghindar darinya. Meskipun penampilannya di hadapan umum memikat hati kita.”

Inilah ikhwah sekalian, bagian dari gambaran diri kita. Teringat perkataan sahabat Muaz bin Jabal ra “akan datang suatu masa, kalian menganggap ringan hal-hal yang pada masa kami sangat berat pelanggarannya.” Mungkin inilah yang menyebabkan berkah terhijab dari amalan dakwah kita. Mungkin inilah yang membuat kita mampu menikmati indahnya Islam dan dakwah.mungkin inilah yang membuat Allah menunda rahmat dan mensegerakan bala. Sehingga kita akrab dengan bencana dan haus akan kedamaian dan kesejahteraan hidup.

Sesungguhnya bumi Allah tempat kita berpijak, adalah tentara-tentara yang tetap komitmennya. Mereka patuh kepada perintah Allah. Mereka mencintai apa-apa yang Allah cintai, dan membenci apa-apa yang Allah benci. Mereka bertasbih dan bertahmid kepada Sang Khalik. Maka bagaimanakah kita bisa dengan dengan tenang berbuat lalai dihadapan para saksi yang tidak pernah lalai.

Sesungguhnya cukuplah apa yang telah terjadi hari ini, sebagai tausiyah atas kelemahan diri kita. Mari menatap bahwa semua kesedihan hari ini, karena kontribusi kelalaian yang kita lakukan.

Sejak hari ini. Mari membuka diri. Menghisab kelemahan diri. Menyempurnakan amanah yang diberikan. Berputar dalam dakwah dengan layak. Dan menggolongkan diri kedalam kafilah mulia dengan hanya membawa karakter positif kita. Cukuplah jumlah orang-orang yang menyamar dalam kebaikan, menutupi kelemahan dan kekurangannya dengan amal yang palsu. Menganggap mampu menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal sesungguhnya menipu diri sendiri. Ingatlah sesungguhnya pintu Rahmat Allah seluas apa yang mampu kita bayangkan. Dan kasih sayang Allah sebesar apa yang mampu kita harapkan. Agar kita tidak larut dan ketinggalan masa mengejar keutamaan. Dan Allah berkenan menggabungkan kita dalam rahmat dan anugerah-Nya.

Dengan itulah kita berharap dakwah kita, pada setiap saat yang ada, senantiasa di naungi, diiringi dan dilimpahkan berkah. Berkah bagi kita, berkah bagi objek dakwah kita, berkah bagi kehidupan di sekitar kita, serta berkah bagi seluruh alam semesta. Wallahu’alam.

[al-izzah/saat dakwah tidak berkah]


0 Responses to “Aktivis Bertopeng”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: