13
Feb
10

Penumpang Gelap dalam Perjalanan Dakwah

Layaknya sebuah perjalanan kereta dengan gerbong besar dan panjang. Mungkin isinya tidak sekedar penumpang kelas satu. Bisa jadi aka nada penumpang tanpa karcis, mereka yang sekedar menumpang, pedagang asongan, pengemis bahkan pencopet.

Begitu pula dakwah ini. Ketika keterbukaan menjadi pilihan, konsekuensi logis harus menjadi pertimbangan. Saat era jamahiriyah digemakan. Mau tidak mau dakwah harus menerima berbagai macam profil manusia yang ada di masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kemudian dakwah memposisikan mereka semua sesuai kapasitasnya masing-masing?

Setiap perjalanan memiliki tabiatnya tersendiri. Hal tersebut tak lain gambaran realitas. Dakwah adalah sebuah perjalanan panjang. Ia memiliki arah dan tujuan yang harus ditempuh. Boleh jadi umur generasi tidak mencukupi kesempatan memperoleh tujuan tadi. Sehingga dakwah menjadi warisan antar generasi. Dakwah mengalir melintasi zaman. Tabiat perjalanan mengisyaratkan kepada kita bahwa ada berbagai jenis manusia yang menyikapi perjalanan. Ada mereka yang yakin akan sampai pada tujuan sehingga mampu bersabar. Ada merekan yang keyakinannya kecil tapi masih setia. Ada mereka yang tidak tahu mau kemana yang penting ikut saja. Ada pula mereka yang tetap di dalam tetapi mulai iseng, tidak mengikuti aturan. Ada juga mereka yang ingin bermain-main dengan waktu, sehingga keluar sebentar untuk melihat dunia luar. Ada pula mereka yang berlagak mengikuti perjalanan, tapi bermaksud mengacaukan, selalu mengkritik  bahkan menarik orang lain untuk keluar.

Begitulah. Saat peluit perjalanan dibunyikan. Kereta dakwah melaju dengan gerbong-gerbong besar dan panjang. Di dalamnya boleh jadi kita menemukan berbagia jenis penumpang. Bagi mereka yang menjadi pelopor keberangkatan, mereka para sabiqunal awalun, mereka tak lain adalah penumpang kelas satu. Mereka yang pertama kali mengajak orang untuk bergabung kepada perjalanan dakwah maka tidak ada balasan kecuali keridhoan Allah dan keindahan surga-Nya. Begitu juga dengan mereka yang menjadi pengikut setia di belakang para sabiqunal awalun tadi. Mereka adalah penumpang kereta dakwah yang baik. Mereka akan mendapat bagian yang sama dengan apa yang mereka didapat orang-orang sebelum mereka. Firman Allah SWT “dan sabiqunal awalun diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya. Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah : 100)

Para Penumpang Gelap

Selain sabiqunal awalun dan pengikut setianya. Ada pula “para penumpang gelap” perjalanan dakwah. Mereka ikut dalam perjalanan dakwah, ada di gerbong-gerbong besar dan panjang ini. Tapi mereka bukanlah penempuh perjalanan sejati. Setidaknya ada beberapa karakter mereka yang bisa kita waspadai.

Pertama, al-qai’diin.

Mereka yang duduk-duduk saja dan orang-orang bersamanya. Kalimat al-qai’diin di sini diambil daro ayat Allah dalam At-Taubah : “…berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya. Niscaya orang-orang yang sanggup diantara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata : biarkan kami bersama orang-orang yang duduk.” Mereka yang tidak menemukan kebahagiaan aktifitas dakwah. Mereka tidak mengerti seberapa besar kenikmatan beriman dan berjihad. Mereka hanya mementingkan “status” dakwah sebagai tameng seolah-olah mereka adalah orang yang alim lagi shalih. Jasad mereka sebenarnya mampu menanggung beban, tapi batin mereka berlalu kerdil. Mereka akan segera taat  pada hal-hal yang mereka sukai.namun mereka akan bermalas-malasan pada hal-hal yang mereka benci. Apabila dihadapkan pada suatu ujian untuk melakukan suatu hal yang tidak mereka sukai, sekalipun didalamnya ada kemaslahatan bagi jamaah dakwah. Maka, mereka akan berpaling sambil memberi alasan atau mereka mentaatinya dengan terpaksa dan hati yang kesal.

Hati mereka lambat laun akan terkunci mati dari keindahan perjalanan dakwah menuju Allah ini. Bukan mustahil mereka tergoda dengan rayuan untuk keluar dari perjalanan dakwah sejauh itu bisa bermanfaat bagi diri mereka sendiri.

Kedua, mencampur adukkan antara amal shalih dengan keburukan.

Inilah kelompok penumpang yang jatuh pada percampuran berbahaya. Salah satu kakinya menampakkan di bumi dakwah. Sedangkan kakinya yang lain menginjak pada hal-hal yang berbau maksiat, cita-cita duniawi dan impian yang panjang. Merekalah orang-orang yang belum memurnikah langkah. Mereka tidak tahu bahwa dunia itu mimpi. Sedangakan igauan mimpi adalah menipu. Mereka merasa bahwa umurselalu bertambah. Padahal setiap nafas yang terhembus selalu mengurangi kesempatan hidup. Mereka masih gemar mabuk harta dan kehormatan dunia. Hal yang bisa membuat mereka gontai dari jalan dakwah.

Mereka hadir dalam tarbiyah dan menjadi bagian dari pembinaan. Namun mereka justru lebih banyak melelahkan para murrabidan membebani dengan beban yang berat. Kadang mereka lebih sering membuat malu ketimbang menghadirkan prestasi. Meski demikian, kita sangat berharap mereka bertaubat kepada Allah. Semoga Allah mengampuni mereka semua yang melakukan hal demikian. Karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “dan (ada pula) orang-orang yang mengakui dosa mereka, mencampur baurkan amal shalih dengan amal buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 102)

Berkah Tarbiyah

Salah satu cirri khas Bani Israil adalah melanggar kesepakatan,mengkhianati janji, tidak mau taat, lari dari kewajiban, kalimat yang tidak bisa dipegang dan berpaling dari kebenaran yang nyata. Akan tetapi karakter ini juga merupakan tabiat setiap jamaah yang belum matang pendidikan imannya. Ia adalah tabiat umat manusia pada umumnya. Tidak ada yang bisa mengubahnya kecuali tarbiyah imaniyah yang tinggi, lama dan dalam pengaruhnya. Oleh karena itu, tabiat ini harus diwaspadai oleh para pimpinan. Diperhitungkan dalam perjalanan dakwah yang berat, agar tidak dikejutkan dengan kemunculannya sehingga tidak mampu mengatasinya. Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna menjelaskan, “Takwin (pembentukan) : dengan cara menyeleksi unsur-unsur yang layak mengemban semua beban jihad dan memadukansebagiannya dengan sebagian yang lain.” (Risalah Ta’lim, Hasan al-Banna).

Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada jalan dakwah yang lurus. Semoga Allah senantiasa membersihkan hati-hati kita dari kesempatan untuk berbuat maksiat dan melanggar ketaatan. Semoga Allah menurunkan berkah-Nya dari langit, mengeluarkannya dari perut bumi, mendekatkannya dari kejauhan. Berkah yang melimpah untuk para da’I yang setia.

Amin ya ROBB..

[al-izzah/saat dakwah tidak berkah]


0 Responses to “Penumpang Gelap dalam Perjalanan Dakwah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: