13
Feb
10

Ya Udah Deh…!!!

Dakwah berkah karena diusung dengan keikhlasan dan totalitas yang jujur. Dakwah berkah, karena kesesuaian perkataan dan perbuatan. Dakwah berkah karena da’inya amanah. Dan dakwah berkah karena kita senang dan bahagia berputar disana.

Apa yang bisa diharapkan dari kader dakwah yang datang kepada dakwah dengan penuh keterpaksaan. Berat hatinya, lemah langkahnya. Ia melihat amal sebagai beban. Tapi pada saat yang sama masih mengaku sebagai aktivis dakwah. Kepada mereka kita katakan, “Bukankah dakwah tidak pernah memaksa antum untuk bergabung?”

Satu catatan besar penyebab dakwah tidak berkah, karena kadernya beramal dengan terpaksa. Satu hal yang tidak pernah ada pembenarannya dalam usia panjang sejarah dakwah.

Dahulu bahkan seorang Abu Dzar Al Ghifari ra, memaksakan diri untuk beramal, meskipun ia tau kelemahannya. Dengan segenap keberanian, dihampirinya pembesar Quraisy, diserukannya pernyataan keimanan. Satu pernyataan, satu amal yang bahkan oleh orang-orangyang lebih kuat darinya, tidak terpikir untuk dilakukan. Tidak cukup sampai disitu, ketika ia menderita akibat dampak amalnya. Ia kembali melakukan hal yang sama. Meskipun untuk itu, iakembali harus pingsan dan sekujur tubuhnya penuh lebam berdarah. Dari situlah kita belajar tentang totalitas amal dan perjuangan. Bahkan kemampuan yang terbatas tetap mampu menyumbang produktifitas dalam dakwah, ketika amal tersebut dihampiri dengan segenap keikhlasan dan kebanggaan. Syiar Abu Dzar menanamkan kekhawatiran  dalam hati pembesar musyrik, bahwa Islam semakin kuat tidak berdaya menghadapinya.

Realita dakwah masih menggambarkan kenyataan keterpaksaanaktivis dalam mengusung amal. Masih terdengar ungkapan-ungkapannya dalam interaksi dakwah. “Afwan deh..ada yang lain ga”, “Yahh..kok ane sih, trus yang lain ngapain dong”, “Ya udah deh..tapi ga jamin optimal ya…”

Banyak hal yang perlu di evaluasi dari sikap dan karakter aktivis seperti ini. Secara umum adalah kelemahan dalam memahami dakwah. Ini secara langsung menjadi indicator orientasi, Ittijah yang belum benar. Ketika dakwah diusung masih untuk tujuan lain, maka sangat mungkin komitmen yang mengiringinya parsial. Komitmen amal masih sangat bergantung kepentingan dan tujuan lain. Semakin kecil kepentingan lain yang diharapkannya, semakin kecil komitmen amalnya.

Kader dakwah yang lemah, akan mudah terjerat dan merasa wajar memiliki standar ganda dalam hal tujuan. ‘Bukankah hidup kita didunia, maka wajarlah kiranya kita mencukupkan kehidupan dunia kita selain dakwah’, demikian mereka berargumentasi. Mereka kemudian menimbang dan menakar amal untuk kepentingan baru tersebut. Semakin jauh dari pemenuhan kepentingannya, semakin sedikitlah semangatnya dalam beramal.

Rusaknya orientasi berdampak pada rusaknya amal yang lain. Hal pertama dan paling mendasar adalah rusaknya niat. Amal jadi berpamrih. Semangat menjadi tidak stabil. Akibatnya pengorbanan yang banyak dalam beramal dibayar Allah dengan sia-sia. Seperti indahnya warna-warni balon, namun kosong dan tak berisi apa-apa.

Kelemahan orientasi ini harus senantiasa dibenahi dalam diri seorang kader dakwah.pertarungan ideologis yang berlangsung hari ini, mentargetkan tujuan besarnya pada perubahan orientasi kaum muslimin. Semua perangkat pertarungan yang mereka masukkan lewat ghozwul fikr, mengarahlan tujuannya kea rah perubahan orientasi. Sampai dakwah dan Islam tergantikan dengan tujuan-tujuan materi dan kenikmatan dunia.

Ingatlah bahwa sesungguhnya tidak berbanding apapun yang mampu diberikan kehidupan ini, dengan apa yang Allah janjikan dalam dakwah yang ikhlas. Ukurlah keikhlasan dakwah dan kekuatan ittijah seorang sahabat Rasulullah SAW, Utsman bin Affan dalam salah satu nasihatnya, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya itu adalah kemenangan. Sepintar-pintar manusia adalah ia yang mampu mengendalikan dirinya dengan bekerja untuk kehidupannya setelah mati. Carilah cahaya Allah, cahaya penerang bagi gelapnya kuburan. Dan hendaklah hamba itu merasa takut dikumpulkan Allah dalam keadaan buta, padahal dulunya ia melihat. Bagi orang yang bijak, cukuplah kata-kata yang singkat dan padat. Sedang orang tuli dipanggil dari tempat yang jauh. Dan ketahuilah bahwa siapa yang dijadikan Allah sebagai temanNya, ia tidak merasa takut terhadap apapun. Tapi siapa yang dimusuhi oleh Allah, kemana gerangan ia mengharapkan pelindung selainNya”.

Inilah gambaran tentang ittijah dalam beramal. Jauh melampaui batas-batas yang bisa ditawarkan oleh kehidupan dunia. Sepintar-pintar manusia adalah ia yang bekerja untuk kehidupan setelah mati. Bayangkan kenikmatan amal baginya bukan lagi apa yang bisa dijanjikan kehidupan ini, melainkan kehidupan setelah kehidupan ini. Jika ini menjadi bagian dari ittijah kita, maka akankah kita merasa terpaksa menunaikan amalan dakwah ini.

Optimalisasi Potensi

Sisi lain dari keterpaksaan beramal adalah mengebiri potensi diri. Kader produktif menilai amal baru yang dihadapinya, adalah peluang meningkatkan kualitas dan standar proesionalitas dirinya. Untuk ituia masuk kedalam sebuah amal dengan segenap potensi yang dimilikinya. Cara berpikirnya adalah merancang target terbaik yang mungkin dihasilkannya. Ia segera merancang ragam alternatif yang dikuasainya untuk menyelesaikan amanah amal dakwah. Lalu kita akan lihat hasilnya menjadi sangat produktif.

Bandingkanlah dengan kaderdakwah yang masuk ke dalam amal dengan keterpaksaan. Ia langsung membangun tembok penghalang antara kreatifitas dirinya dengan amal yang ditawarkan. Cara pandangnya terhadap amal adalah beban. Terhadap beban, tentu saja setiap kita berpikir untuk menghindarinya. Jika cara berpikir seperti ini yang dimiliki, maka akankah amal tersebut diselesaikan dengan maksimal.

Perbandingan kedua hal di atas jelas menggambarkan 2 hal yang bertolak belakang. Jelas pula keuntungan dan kerugiannya. Bertahan dengan keterpaksaan dalam menyelesaikan amal, hanyalah mengijinkan erosi produktifitas berlangsung dalam diri kita. Jika hal tersebut berlangsung, maka secara sadar kita mengijinkan diri kita menjadi tidak produktif. Tentu saja hal tersebut akan berdampakdalam semua aspek kehidupan diri kita.

Lebih jauh Allah tidak akan memandnag keluh kesahnya, Allah tidak akan menilai pengorbanannya, Allah juga tidak mengganjar prestasi amalnya. Kesat hatinya laksana api yang membakar tumpukan amalnya. Habis tak bersisa kecuali debu yang tak bernilai.

Aktivitas seperti ini, dalam dakwah kolektif, adalah aktivis yang mengurangi bobot keberkahan dakwah. Ia datang dengan kelemahannya, kemudian menjalankan amal dengan keluh kesahnya, dan menjadi penyebab lemahnya barisan dakwah. Padahal sesungguhnya, tidak sekalipun Allah memaksa manusia untuk menyembahnya. Bahkan dalam kehidupan ini, bertuhan dan memeluk agama, adalah hak dan bukan kewajiban. Lalu apakah yang menyebabkan mereka tetap bersama dakwah yang membebaninya.

Perlukah kiranya kita serukan, jika kita termasuk bagian dari aktivis lemah ini, segeralah tetapkan pilihan. Hidup dan bahagialah dengan dakwah, atau silahkan menjauh dari dakwah. Sesungguhnya dakwah ini tidak akan pernah kekurangan pengusungnya.

Sesungguhnya kenikmatan bersama dakwah adalah karena kepastian jalannya dan kejelasan tujuannya. Dua hal inilah yang dikejar oleh manusia dengan membanting tulang dan menghabiskan usianya. Bahkan orang yang tahu tujuan hidup tapi ragu dengan jalannya. Banyak orang yang berhadapan dengan jalan yang menurut mereka jalan kebaikan, tapi ragu dengan kebenaran tujuannya.

Lalu kita hari ini, insyaallah berhadapan dengan jalan dan tujuan hidup yang baik. Lalu apakah yang membuat kita lemah dan tidak menjadi optimal. Ingatlah sesungguhnya jalan dakwah juga merupakan bagian dari nikmat Allah. Terhadap nikmat kita hanya punya dua sikap, bahagia dan bersyukur atasnya, maka Allah limpahkan tambahannya. Atau kita kufur dengan nikmat tersebut, maka Allah cabut ia diri dari diri kita. Semuanya terserah anda. Yang jelas bagi da’I jundiah, cukuplah dakwah dan berkahnyasebagai kebahagiaan hidup ini. Tidak perlu lagi yang lainnya. Wallahu’alam.

[al-izzah/saat dakwah tidak berkah]


2 Responses to “Ya Udah Deh…!!!”


  1. 1 Juju Yulia Asih
    Februari 15, 2010 pukul 2:09 pm

    astagfirullah………..
    kadang rasa tidak ikhlas itu timbul bgitu saja tanpa smpat qt sadari….
    jazakillah atas tulisannya!!!
    moga smakin memacu keimanan n keikhlasan qt !!!
    amin ya Rabb!!~!!

    • Februari 16, 2010 pukul 4:29 am

      yo i sist..
      sama-sama.
      kita saling mengingatkan..
      tujuan dakwah yang kita lakukan ini untuk siapa??
      yu ahh..
      berikan yang terbaik untuk yang Maha Terbaik..
      Insyaallah..Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik, tanpa kita sadari..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: