23
Mar
10

Urgensi Pembentukan Keluarga Muslim

Berkeluarga dalam islam merupakan sunatullah yang berlaku untuk semua makhluk, kecuali malaikat tentunya. Bahkan ditekankan bahwa nikah adalah sunnah Rasulullah yang harus diikuti oleh ummat ini.

“Ada 3 orang yang mendatangi rumah-rumah istri Nabi SAW menanyakan ibadah Nabi SAW. Maka tatkala diberitahu, mereka merasa seakan-akan (ibadahnya) tidak berarti (sangat sedikit). mereka berkata: “Dimaana posisi kami dari Nabi SAW, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.” Salah satu dari mereka berkata: “Saya akan Qiyamullail selama-lamanya.” Dan yang lain berkata: “Aku akan puasa selamanya.” Dan yang lain berkata: “aku akan menghindari wanita, aku tidak akan pernah menikah.” Lalu datanglah Rasulullah seraya bersabda: “kalian yang bicara ini dan itu, demi Alah, sungguh aku yang paling takut dan yang paling takwa kepada Allah. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat, aku tidur dan aku juga menikah. Barang siapa yang benci terhadap sunnahku maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhari).

Faktor-faktornya, Check it out :


  • Perintah Allah

Membentuk dan membangun keluarga merupakan perintah yang telah ditetapkan Allah. Hikmahnya tiada lain agar teralisir kesinambungan hidup dalam kehidupan dan agar manusia berjalan selaras dengan fitrahnya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-Mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakan laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa:1)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”


  • Membangun mas’uliah (rasa tanggung jawab) dalam diri seorang muslim

Sebelum seorang berkeluarga, seluruh aktivitas hidupnya hanya fokus kepada perbaikan diri. Mas’uliahnya terpusat pada ucapan, perbuatan dan tindakan yang terkait dengan dirinya sendiri. Akan tetapi setelah membangun mahligai rumah tangga, ia tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya saja. Ia juga harus bertanggung jawab terhadap keluarganya, bagaimana mendidik dan memperbaiki isterinya agar menjadi wanita yang memahami dan melaksanakan hak serta kewajiban rumah tangganya, bagaimana mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi rabbani dan qur’ani.

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya.”

“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik pada keluarganya dan aku paling baik bagi keluargaku.” (HR. Imam Al-Baihaqi)

“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Imam At-Tirmidzi)

  • Langkah penting membangun masyarakat muslim

Keluarga muslim merupakan batu bata yang institusi terkecil dari masyarakat muslim. Seorang muslim yang membangun dan membentuk keluarga, berarti ia telah mengawali langkah penting untuk berpartisipasi membangun masyarakat muslim. Berkeluarga merupakan usaha untuk menjaga kesinambungan kehidupan masyarakat dan sekaligus memperbanyak anggota baru masyarakat.

Dari Anas ra berkata : “Rasulullah memerintahkan kami ba’ah (mencari persiapan nikah) dan melarang membujang dengan larangan yang sesungguhnya seraya bersabda: “Nikahi wanita yang banyak anak dan yang banyak kasih sayang. Karena aku akan berlomba dengan jumlah kamu terhadap para nabi pada hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)

  • Mewujudkan keseimbangan hidup

Orang yang membujang dianggap belum menyempurnakan sisi lain keimanannya. Ia hanya memiliki setengah keimanan. Bila ia terus membujang maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidupnya, kegersangan jiwa dan keliaran hati. Untuk menciptakan keseimbangan dalam hidupnya, islam memberikan terapi dengan melaksanakan salah satu sunnah Rasul yaitu membangun keluarga yang sesuai dengan rambu-rambu ilahi.

“Apabila seseorang menikah maka ia telah menyempurnakan setengah agama. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam setengahnya.” (HR. Imam Al-Baihaqi)

Menikah juga menjaga keseimbangan emosi, ketenangan pikiran dan kenyamanan hati.

“Wahai para pemuda, barang siapa dari kalian yang memiliki kemampuan, maka hendaklah is menikah. Karena sesungguhnya menikah itu akan menundukkan pandangan dan memelihara faji (kemaluan). Barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa. Karena puasa itu merupakan benteng baginya.” (HR. Imam Muslim)

(Al-Intima’ Edisi No.003/Mengawal Perubahan/Takwin Baitul Muslim)

Iklan

0 Responses to “Urgensi Pembentukan Keluarga Muslim”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: