17
Jun
10

Teguhkan Aku Wahai Sahabatku..

Rasa-rasanya tidak ada salah seorangpun diantara kita yang tidak mengenal kata “sahabat”. Sebuah kata yang sangat familiar di telinga, kata yang mungkin definisinya selalu membersamai kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kata yang kemudian menjelma menjadi individu-individu dengan berbagai macam karakter, ada yang tinggi, pendek, kurus, gemuk, laki-laki atau perempuan. Bersama-individu-individu ini kemudian kita merangkai hari demi hari, jam demi jam, menjalani sebuah ketentuan yang digariskan Allah kepada kita makhluknya, ketentuan bernama hidup.

Bersahabat adalah fitrah kita manusia, bahkan fitrah yang paling asasi. Tidak ada satu orangpun manusia di bumi ini yang tahan dengan kesendirian, kita membutuhkan pengakuan. Kita butuh orang-orang yang memberikan peneguhan ketika kita bersedih, orang-orang yang dapat mengisi kebutuhan jiwa tentang arti yang paling hakiki dari berinteraksi dan bersosialisasi, atau mungkin seorang sahabat super spesial yang dengannya kita akan menghabiskan hampir sebagian besar usia dalam hidup ini, seorang sahabat yang khusus Allah ciptakan hanya untukmu atau hanya untukku, semoga pada kesempatan lain dapat menulis mengenai sahabat yang satu itu.

Menggali mata air Islam seolah-olah memang tidak pernah ada habisnya, bahkan untuk tema yang satu ini, mencari sahabat. Bersyukur Allah SWT telah memberikan sahabat-sahabat terbaik kepada Rasulullah saw, ada juga para sahabat dari generasi hawariyun pada masa Isa as, atau simak pinta Musa as dalam Al Qur`an “dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, Harun saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku” (20:29-32). Meskipun mereka adalah para Nabi sekaligus juga Rasul, mereka tetap terikat dengan fitrahnya, mereka tetap manusia, mereka membutuhkan orang lain yang dapat berperan sebagai sahabat.

Sekarang saya ingin mengajak kita merenung lebih dalam, mengingat kembali sat-persatu tentang siapa sahabat-sahabat terdekat kita. Sahabat yang kemudian menjadi orang-orang yang secara disadari ataupun tidak akan mempengaruhi pola pikir, tingkah laku bahkan perasaan kita. Sebuah teori psikologi memberikan sebuah tips yang sederhana, tulis cukup lima orang nama sahabat yang paling dekatmu, lalu tuliskan sifat-sifat mereka sampai sebatas yang kamu tahu, kegemarannya, kegiatan yang sering kamu lakukan ketika bersama mereka, buku-buku bacaannya, atau bahkan kalau sempat tanyakan juga tokoh sejarah atau buku biografi yang menurutnya paling berkesan, setelah kamu dapatkan jawabannya, kamu tinggal bersikap jujur saja pada dirimu sendiri, kurang lebih itulah kamu. Berlebihan? Ah, boleh percaya boleh juga tidak, tetapi ada baiknya kita mendengar sabda Rasullullah saw dalam sebuah kesempatan “millah seseorang itu tergantung millah sahabatnya”, nah lo.. Saya rasa kalau kamu senang membaca sejarah, kamu akan mendapati bahwa ternyata ada orang-orang besar dengan gelar-gelar besar, merekapun bersahabat dengan orang-orang besar. Kata besar disitu bukan dimaknai secara harfiah sebagai kelebihan yang sifatnya materi lo ya.. Tapi sesuatu yang lebih hakiki, sesuatu yang menurut saya harus kamu cari tahu sendiri. Sebagai bocoran katanya di muka bumi ini pernah diturunkan umat yang terbaik selama sejarah kemanusiaan, nah kalau ingin mencari tahu, lebih baik diawali dari situ.

Tidak! Saya tidak sedang mengajak kita untuk menjadi ekslusif dalam memilih sahabat. Kita bisa menjadi plural dan moderat tanpa kehilangan identitas dalam memandang agama. Yang harus diposisikan secara benar adalah intensitas waktu yang kita luangkan dengan individu yang beragam itu. Ada mereka yang senangnya hanya mengajak kita melakukan sesuatu yang mungkin kalau kita fikir tidak ada manfaatnya untuk pengembangan diri, tidak pernah bisa bermanfaat secara dunia apatah lagi agama. Ada juga mereka yang cukup membersamainya saja kita bisa belajar buaanyak! Hasratnya, tutur katanya, keluasan ilmunya, apalagi aktifitasnya, pokoknya no doubt buat dijadiin best friend lah!. Nah rasanya bersama tipe orang kedua ini kita harus lebih sering berinteraksi, karena dengan orang sepeti ini kita bisa berlomba dalam hal apapun, secara khusus kebaikan tentu saja. Lihat! Usia mereka masih muda, usia yang kalau orang kebanyakan harusnya ya… begitulah! Tapi dengan luar biasa mereka menjalani kehidupan ini dengan prestasi dan amal nyata disertai sabar yang panjang plus ikhlas yang total, subhanallah.. Bersama orang-orang seperti ini kita dapat memacu apapun menuju tingkat yang lebih tinggi lagi, berlomba-lomba memperbaiki diri, tidak malah melambat atau bahkan mogok ditengah jalan. Kita dipaksa setuju bahwa untuk memperbaiki diri, kitapun harus berada di sebuah komunitas orang-orang yang baik, rancu sekali rasanya kalau hendak memperbaiki diri tapi malah berada disebuah komunitas yang ya.. dibilang standar lah atau parahnya lagi komunitas yang tidak pernah mengenal apa itu nilai kebaikan. Jadi ingat guyonannya Aa Gym, seseorang mendapat pujian “Wah lu hebat euy.. shalatnya bisa tiga kali sehari! Keren!” hanya karena dia berkumpul di sebuah komunitas yang tidak pernah melakukan shalat, hehe.. lucu juga ya mendengarnya, padahal di mazhab manapun shalat wajib itu lima waktu dalam sehari bos! Jadi ayo berlomba!! “…itulah mereka sedang menyusul aku, dan aku bersegera kepadaMu, Ya Tuhanku, agar engkau ridha (kepadaku).”

Sori ya kalau terlalu serius, kok kayanya saya memberikan gambaran sahabat yang sangat ideal sekali, sahabat yang kayanya manyun.. aja, ga pernah bisa bercanda. Kalau itu pendapat kamu, ya saya bilang salah. Berkaca kepada para sahabat pilihan (Radhialahu `anhum), mereka bisa sangat serius ketika memang waktu menuntut mereka untuk serius, mereka berbaris rapi menghunus pedang dan tombak ketika agama Allah dihinakan, tetapi ada hadist juga menjelaskan bagaimana mereka bisa saling lempar semangka sambil saling menggoda, mereka bisa saling bertegur mesra sambil memakan kurma. Itulah sahabat Nabi, sahabat sejati Rasulullah saw. Semoga pepatah “begitu mudah mencari teman untuk tertawa dari pada mencari teman untuk menangis” dapat kita hayati dalam-dalam. Karena pepatah itu memang benar adanya. Saya rasa jawaban dari “tertawa” dan “menangis” dalam pepatah tadi ada pada kejujuran, jujur pada diri sendiri sambil berintrospeksi kenapa orang itu mau menjadi sahabatmu, apakah karena anu.. karena anu.. atau karena anu.. Begitu pun ketika kamu memilih untuk bersahabat dengannya pasti karena anu.. karena anu.. dan karena anu.. jawabannya hanya kamu yang tau.

Jadi, mari mulai berbenah untuk meningkatkan kualitas diri, berbenah dari hal sederhana, bersahabat. Belajarlah dari kehidupan meskipun kehidupan ini sangat singkat. Disekitar kita ada pribadi-pribadi yang sangat mengagumkan, pribadi-pribadi yang punya visi yang sangat jelas mengenai kehidupan dunia dan akheratnya, prestasi, akademis, sukses bisnis, karier yang terus menanjak, istri dan anak-anak yang juga shalih dan shalihah. Semua itu dapat kita pelajari dari banyak sahabat, sebuah potensi yang dapat kita pelajari dan kita contoh secara nyata. Ada gitu?? Ada! Mereka itu real! Hanya mereka jarang sekali muncul kepermukaan, kitalah yang harus menyelam kedalam dan memang begitulah tabi`at kebaikan, karena kebaikan akan semakin bersinar ketika dia tersembunyi, belajaralah dari para sahabat, lalu katakan padanya.. Teguhkan aku wahai sahabat.. Nah bagaimana dengan sahabatmu?

“Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul,
maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah,
(yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman sebaik-baiknya” (4:69)

(Ummi Athira)


0 Responses to “Teguhkan Aku Wahai Sahabatku..”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: