02
Des
10

dalam malam sepertiga bagiannya

Masih dini untuk ia sebut pagi

Karena gulita masih terhampar di luar sana

Karena shift malam belum usai tunaikan tugasnya

Karena ia masih dalam episode ‘sebelum cahaya’

Dingin menyusup lembut, menerobos pori-pori kulit

Ada yang menyendiri sambil menatap langit

Menumpahkan setiap resah jiwa

Sebentuk kegelisahan yang saat ini tengah melanda

Hujan pertanyaan “mengapa” masih saja mencoba meruntuhkan benteng pertahanan hatinya

Dalam patahan waktu…

Menanti bagian jiwa yang lain

Merasakan desiran angin memainkan musik

Dentingan menyayat seperti terkoyak masa

Ia masih bertemu dengan sepotong malam di sepertiga bagiannya…

Desahan nafas kerinduan memecah kesunyian

Ia sungguh menikmati proses perenungan panjang ini..

Mencoba menguatkan pijakan

Melahirkan kedamaian dalam sanubari

Melarikan hati yang dirundung duka

Bagai rinai titik hujan yang liar menerobos sela-sela bumi

Ia pun ingin terbebas dari belenggu ‘kebimbangan’

Untuk terus menanti ataukah menghentikan episode penantian ini?

Karna sampai detik inipun ia takkan pernah bisa menceraikan sang melati dari harumnya..

Maka opsi pertama yang masih ia pilih :

“MENANTI”

Dan kini, sambil menikmati penghujung sang malam

Ia menanti sang mentari kembali merekah

Menghadirkan pesona batang-batang cahaya yang penuh harapan

Harapan yang menguatkan..

Melarutkan segala kepedihan…

Menggantikan itu semua dengan rasa bahagia yang tak terperikan…

Karena sebentar lagi ‘penulis cahaya’ yang dinanti itu akan datang

dalam hati yang penuh bahasa kasih

dalam keagungan cinta…

dalam kedamaian yang menjadi istananya…

Ia membiarkan skenario Allah menunjukkan kebesaran-Nya

Karena “proses” itu menentukan keberkahan…

Maka wahai diri…

”BERSABARLAH DALAM KEISTIQOMAHAN DALAM OPTIMISME PENANTIAN”…

Tak pernah bintang-bintang melihatnya….
Melainkan ia dalam keadaan sujud…
Pun matahari tak pernah menjumpainya…
kecuali ia tengah berpuasa…

Cahaya bulan tiada juga menyinarinya….
Karena ia sibuk bersimpuh pada-Nya…
Tak banyak tutur kata pada lisannya…
Melainkan keluar kalam suci darinya…
Dimanakah manusia macam ia kini…?

(K. Avicenna)

Iklan

0 Responses to “dalam malam sepertiga bagiannya”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: