10
Des
10

perpisahan

Semua itu mengungkapkan kebingungan mematikan, yang tiada ketenangan dan kedamaian didalamnya. Mengungkapkan keadaan jenuh yang telah mencapai titik terendah.. Dijadikan dunia ini indah bagi mereka, lalu mereka berhenti pada batasnya, terantuk, tak kuasa menembusnya. (Sayyid Quthb)

 

…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan..” (QS. Al-Hujurat : 7)

 

Betapa haruskah..

Kulalui malam ini pada lembah

Yang tiada pada idzkhir

Dan tiada pula jalil

(Bilal ibn Rabah)

Perpisahan memang menyakitkan. Dan kadang berakhir indah. Tepai semuanya niscaya. Seperti perpisahan seorang mukmin dengan dunia, ia masuk surga. Seperti perpisahan para pentaubat dengan maksiatnya, ia menghapus dosa. Seperti perpisahan seorang pengikrar syahadat dengan jahiliyah, ia membangun sebuah kehidupan baru.

Ketika kita kembali mengikrarkan syahadat setelah lama terlalaikan, kita sedang melakukan reuni dengan fitrah. Reuni yang juga bermakna salam perpisahan kepada ‘yang bukan fitrah’. Karena yang bukan fitrah kadang datang menggusur fitrah dari kedudukan yang semestinya dalam diri kita.

Setiap anak dilahirkan diatas fitrah. Maka orangtuanyalah yang meyahudikannya atau menasranikannya atau memajusikannya.” (Mutafaq Alaih)

Wada’an… Selamat tinggal dunia kelam

Wada’an… Selamat tinggal belenggu muram

Inilah titik perpisahan.

Dibalik perpisahan itu ada makna-makna yang mungkin bisa kita telaah

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kukuh itu di kehidupan dunia dan akherat..” (QS. Ibrahim : 27)

Pertama : Berpisah Artinya Berlepas Diri

Kemerdekaan ini menuntut sebuah proklamasi. Bahwa telah melepaskan diri dari semua intervensi, tekanan dan kekangan oleh semua bentuk jahiliyah dan musuh fitrah. Ibrahim Khaliiilur Rahmaan bersama kumpulannya memberi contoh, bagaimana sebuah proklamasi untuk berlepas diri dibangun dengan gagah dan kokoh.

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika berkata pada kaumnya. Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian, dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja..” (QS. Al-Mumtahanah : 4)

Berlepas diri adalah kemuliaan. Ketidaktergantungan kepada musuh fitrah dan jahiliyah, membangun set psikologis yang penuh percaya diri, sejajar bahkan unggul dihadapan tiran jahiliyah yang lacut.

Kedua : Berpisah Artinya Ujian Cinta

kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan diri kalian. Dan kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan orang-orang musyrik, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati..” (QS. Ali Imran : 186)

Nilai mulia seorang pengikrar, bukan terletak pada lengkingan suara tenornya meneriakkan sebuah slogan. Demi Allah. Sang pemilik Kemuliaan yang berhak untuk menguji, menyeleksi dan menetapkan gelar mukmin bagi siapapun yang dikehendakiNya. Ketika pengikrar ini menyatakan berpisah dengan jahiliyah dan musuh fitrah, disinilah sebuah titik tolak dipancangkan : bahwa ia siap menerima ujian untuk melengkapi syarat kelulusannya sebagai mukmin.

Bilal ibn Al-Arats, pandai besi yang pernah dipanggang hingga cairan tubuhnya memadam bara itu begitu trenyuh sampai merajuk, “Yaa… Rasulullah, tidakkah engkau menolong atau berdo’a untuk kami?

Wajah mulia yang sedang berbaring berbantal surban didekat Ka’bah itu menampakkan raut tak suka. Lalu ia bersabda :”Orang-orang yang sebelum kalian ada yang disiksa dengan digalikan tanah lalu ia ditanam disitu hidup-hidup. Kemudian dibawakan gergaji lalu gergaji itu diletakkan diatas kepalanya, kemudian ia dibelah menjadi dua dan disisir dengan sikat besi hingga tinggal kulit dan tulangnya. Tetapi itu semua tidak memalingkan mereka dari agamanya. Demi Dzat yang jiwaku ditanganNya, Allah akan menyempurnakan urusan ini sampai seorang penunggang berjalan sendirian dari Shan’a ke Hadhramaut dan tiada yang ditakutinya kecuali Allah, dan tidak takut serigala akan memakan kambingnya…tapi tampaknya kalian tergesa-gesa!” (HR. Bukhari)

Ini tak sekadar kesengsaraan. Ini bukan hanya kenestapaan. Terjelaslah, ia dan orang-orang yang bersamanya sedang meniti jalan cerita yang disusun Sang Maha Pencipta. Ia sedang menggali lubang terdalam. Maka rasa sakit itu terasa menanjak, agar harapan akan pertolongan Allah memuncak.

Inilah keagungan Islam. Meski pemeluknya membenci kekufuran, tapi ikatan kemanusiaan tak pernah lepas dari perilaku keseharian. Ia ajarkan penghapusan kejahatan sistemik dengan empati, balasan baik yang penuh perhatian dan menjadilah masuk berdecak, bahkan sedia bersetia.

Ketiga : Berpisah Artinya Berbeda

Tidak ada artinya perpisahan fisik, kalau batin masih saling terikat. Tidak ada kemerdakaan sejati, selama yang jauh dimata masih dekat dihati.

Perpisahan dengan jahiliyah dan musuh fitrah adalah sebuah kemerdekaan dari segala jenis keterbelengguan dalam perasaan, pemikiran, ucapan dan tindakan. Merdeka untuk menegakkan fitrah, mentauhidkan Allah dan memakmurkan bumiNya.

Sudah menjadi sifat manusia, bahwa ia menyukai simbol-simbol sebagaimana ia ingin meraih substansi. Substansinya adalah bahwa kegelapan jahiliyah dan penganutnya tidak sama dengan cahaya islam dan penegak-penegaknya.

Dan tidaklah sama orang yang buka dengan orang yang melihat. Dan tidak sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak sama (pula) yang teduh dengan yang panas!” (QS. Fathiir : 19-21)

Ini adalah substansi yang tak akan sempurna tanpa implementasi. Cara pandang, pola pikir, dan bingkai persepsi bisa jadi merupakan implementasi intelektualnya. Jika para penentang aqidah ini berjuang mati-matian menunjukkan eksistensi dengan simbol-simbol dan mode yang memboroskan energi dan sumber daya, maka para pemeluk kebenaran lebih pantas untuk mewarnai dunia dengan celupan warna illahi, simbol penuh karakter sebagai identitas tegas yang akan membedakannya dengan pengikut kebhatilan.

Dibalik perbedaan zhahir selalu ada perasaan batin yang membedakan satu konsepsi dengan konsepsi lain, sistem kehidupan dengan sistem kehidupan lain, dan cirri khas suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lain. Ini bukan fanatisme tanpa makna, tetapi merupakan pandangan yang mendalam kepada apa yang ada dibalik bentuk lahiriah tersebut. Setiap orang kafir, kata Ibnu Taimiyah, akan gembira jika tata cara dan seleranya diikuti. Mereka akan hidup, dan cara pandangnya terhadap segala sesuatu. Kalau itu terjadi, alangkah kasian mereka. Karena mereka akan bangga selalu berada dalam kesesatan. (Sayyid Quthb)

Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Daud)

***Memintal Seutas Benang/Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim/Salim A Fillah


0 Responses to “perpisahan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: