16
Des
10

Suara

Postingan terpanjang di tahun baru, hmmm…tentang kepemimpinan, demokrasi, de el el.

 

Tapi tidakkah kau rasakan dia senantiasa mengimbangi posisiku. Jika ia lembut, dia mengeraskan dan meyakinkan. Jika kau keras, dia melunakkan dan menyabarkanku!” (penggalan kata Abu Bakr kepada ‘Abdurrahman ibn ‘Auf tentang ‘Umar… like this 😀 )

 

Da’wah yang tenang, namun lebih gemuruh

Dari tiupan topan yang menderu

Da’wah yang rendah hati, namun lebih perkasa

Dari keangkuhan gunung yang menjulang

Da’wah yang dekat, namun lebih luas

Dari belahan bumi seluruhnya

(Hasan Al Banna)

 

Yang tercinta tanah airku

Katakan pada mereka yang mencoba menyebut kami sektarian atau primordial

Kata itu justru adalah burung hantu yang engkau terbangkan di langit hati kami

Namun kini telah tertembak mati oleh senapan nurani keIslaman kami

Lihatlah, kini ia terkapar tak berdaya di ujung gurun sahara

Dan merpati Islam pun terbang tinggi membawa pesan kedatangan

Kami kembali

Yang tercinta tanah airku!”

(M. Anis Matta)

 

Dunia seolah telah bersuara satu untuk demokrasi

Dan hari ini rakyat Palestina pun senada

Jika mereka harus dihukum karena memilih Hamas

Maka demikian pula rakyat Amerika harus dihukum karena memilih Bush!

(Khalid Misy’al)

 

Ada aksioma yang kita yakini, bahwa di dunia ini senantiasa terjadi pertarungan antara Al-Haq dan Al Bathil, As Sira’ bainal Haqqi wal Bathil. Seorang intelektual muslim memilih diksi yang lebih lembut yakni mudafa’ah, desak mendesak, dorong mendorong. Dalam keyakinan mereka, kebenaran dan kebhatilan hanya bertarung dalam dongeng, disana kebenaran selalu menang di akhirnya. Saat ini menjadi penting untuk menggabungkan energi keshalihan sekaligus energi kemaksiatan dalam satu wadah demi dunia yang damai, maju dan beradab.

Setiap manusia mempunyai kepentingan. Kepentingan yang ada dalam dada dan kepala masing-masing manusia. Mengukur mana yang haq dan mana yang bathil tak perlu dimasalahkan. Di sana ada landasan konsepsi, metode gerak, dan hasil serta dampak hanya ada dua yaitu Hizbullaah dan Hizbusy Syaithan.

Di sini terlihat. Medan yang membentang luas, penuh sesak oleh manusia dalam dinamika yang saling mendesak, saling berlomba dan saling mendorong mencapai berbagai tujuan. Tetapi di belakang itu semua, ada tangan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengatur yang memegang semua kendali dan menuntun parade yang saling berdesakan, saling menjatuhkan, dan saling berlomba cepat itu, kea rah kebaikan, kemashlahatan, dan pertumbuhan, di akhir perjalanan. (Sayyid Quthb)

 

Karakter asli kebhatilan adalah zahuq : lenyap, tertutup dan kalah.

Dan katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap’. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Israa : 81)

Tetapi mengapa kebhatilan kini semakin eksis? Karena yang benar tidak datang untuk mendesak dan menjadikannya zahuq. Karena kebenaran berdiam diri di masjid-masjid, dan bersembunyi di mihrab-mihrab. Karena kebenaran memilih diam disaat kebhatilan bicara, lalu terlambat bicara disaat kebahtilan telah bekerja. Karena kebenaran tak pernah mendesak dan memukul berhala-berhala itu dengan tongkatnya.

Umat Muhammad memang istimewa. Pada umat sebelumnya, ketika da’wah terbuntu, ketika para Rasul sudah habis-habisan berda’wah namun tak juga bertambah pengikutnya, ketika penentang-penentang da’wah semakin sombong dan angkuh, Allah sendiri yang kemudian menurunkan azabNya.

Kaum Luth habis diterjang hujan batu berapi dan tanah pijakan mereka dibalik, yang diatas dijadikan yang dibawah. Kaum Tsamud ditimpa gempa dan suara keras mengguntur. Kaum ‘Aad habis dengan terpaan angin dingin yang sangat keras, hingga mereka bagaikan tunggul kayu lapuk tak berbekas. Fir’aun, yang memusuhi Musa ditenggelamkan. Bahkan Nuh berdoa saat banjir menggemuruh, agar Allah memupus habis kaum yang menentangnya.

Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlan Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba MU, dan mereka tidak akan melahirkan selain generasi yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh : 26-27)

Umat Muhammad tidak. Ketika Nabi diusir, dilempari batu, dikejar-kejar hingga berdarah-darah, ia tidak berdoa seperti Nuh untuk membinasakan kaum itu. Ia justru berdoa agar Allah mengampuni karena ketidaktahuan mereka. Ia justru berharap jikapun mereka tak beriman, kelak anak-anak mereka yang beriman. Dan Allah sekali lagi menegaskan keistimewaan itu.

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah : 14)

Jika untuk menghancurkan kaum sebelumnya Allah mengerahkan tentara alam, kini Allah memanggil partisipasi hamba-hamba beriman. Azab Allah bagi penentang-penentang da’wah datang lewat tangn orang-orang mukmin, bukan bencana alam. Siksa itu mereka rasakan sebagai sebuah desakan dari kebenaran atas kebhatilan melalui upaya sistematis dan terprogram. Bersiaplah. Berperanglah. Selebihnya, Allah lah Sang Penolong. Seperti doa yang menjerit dari hati mulia di padang Badr, “ya Allah, jika golongan ini Engkau biarkan binasa, Engkau tak akan disembah lagi di muka bumi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah lagi selamanya setelah hari ini!

Kalimat Ash-Shiddiq yang menenangkan sabahatnya, “Cukup ya Rasulullah, tenanglah… Allah tidak akan menyalahi apa yang telah Ia janjikan kepadamu!”.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan orang-orang sebelumnya berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengganti (kondisi) mereka sesudah merreka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu tanpa mempersekutukan apapun denganKu.” (QS. An-Nur : 55)

Medan sejati kita, insyaallah memang perang mempertaruhkan jiwa, hingga pohon dan batu bicara. Diluar medan final ketika besi bertemu besi dan api bertemu api, hari-hari ini kebhatilan memilih satu sarana perang yang membungkam kebenaran. Suara. Ya. Suara. Al Mughalabah bil Ashwaat. Dominasi ditentukan oleh suara. Siapa yang lebih keras, dan banyak dalam bersuara, dia yang akan menang.

Bermula polemik ketika da’wah bersentuhan dengan demokrasi. Karena di mana ada da’wah, di situ demokrasi diadakan, atau minimal dicita-citakan. Ketika yang memenangkan demokrasi adalah da’wah, seperti Hamas di Palestina.

Dr. Yusuf Qardhawi berkata , “Pemimpin yang terpilih karena diridhai rakyat jauh lebih dekat pada Islam daripada tiran yang disebut Nabi sebagai seburuk-buruk pemimpin sabdanya, “Dia membenci kalian dan kalian membencinya!”

Sejarah Khulafaa-ur Rasyidiin menawarkan sistem yang sangat fleksibel untuk memilih orang terbaik yang akan memandu da’’wah. Afzal Iqbal dalam Diplomacy in Early Islam, diantaranya :

Abu Bakr : Diplomasi dan Aklamasi

Pemakaman jenazah Rasulullah dengan sangat terpaksa harus ditunda. 3 sahabat utama itu : Abu Bakkr, ‘Umar dan Abu ‘Ubaidah ibn Al Jarrah bergegas-gegas ke arah Saqifah Bani Sa’idah. Di balai pertemuan itu, orang-orang Anshar berkumpul untuk memilih pengganti Rasulullah. Itu dia pemimpin yang telah mereka pilih, pemimpin Khazraj, Sa’d ibn ‘Ubadah sedang terbaring menggigil demam di pojok ruangan.

Abu Bakr seperti biasa, bicara dengan kalimat ringkas namun meyakinkan. Abu Bakr dengan nada kesyukuran yang khidmat menghargai pengabdian orang-orang Anshar untuk Islam, kesetiaan mereka pada Rasulullah, pembelaan dan pertolongan mereka yang tak terhingga. Sekaligus juga Abu Bakr bicara tentang persoalan legitimasi. Apa yang ditinggalkan Rasulullah telah demikian luas, dan sungguh semua bangsa Arab hanya bisa menerima pemimpin dari Quraisy, pelindung dan pelayan Ka’bah sejak berabad-abad. Tentu sosok Abu Bakr sebagai juru bicara, memudahkan argumen ini diterima orang-orang Anshar. Teriakan, “masing-masing punya pemimpin! Kalian pilihlah pemimpin -istdan kami telah memilih Sa’d!”, yang semula bersiponggang luluh melihat ketulusan Abu Bakr.

Abu Bakr mengakhiri pidatonya. “Wahai saudara-saudaraku Anshar..!”, katanya, “Tak seorang pun yang mengingkari ketinggian derajat kalian dalam agama dan keagungan pengorbanan kalian dalam Islam. Kalian telah dipilih Allah unntuk menolong agama dan RasulNya, kepada kalianlah Rasulullah diutusNya saat beliau hijrah, dan justru dari kalianlah mayoritas  sahabat Rasulullah dan istri-istri beliau berasal. Posisi kalian adalah setelah As Sabiquunal Awwaluun. Sungguh adil dan tepat sekiranya kami duduk sebagai Amir, maka kalian akan duduk sebagai Wazir. Kalian tidak akan terhambat dengan apa yang akan kalian rencanakan, dan kami takkan melakukan apapun sebelum berkonsultasi dengan kalian!”

Lalu Abu Bakr menominasikan ‘Umar dan Abu ‘Ubaidah untuk dibai’at. Tapi suasana jadi begitu sendu. ‘Umar hanya gemeretak giginya, mengepalkan tangan dan menunduk dalam, sementara Abu ‘Ubaidah meneteskan air matanya sambil geleng-geleng karena rasa malu. “Tidak!” kata ‘Umar, “Justru engkaulah yang akan kami bai’at.” Dan semua sepakat denagn ‘Umar. Hari itu, kaum muslimin memiliki seorang pemimpin baru. Dengan sebuah diplomasi. Dan aklamasi.

 

‘Umar : Lobi dan Amanat, dari Yang Terpercaya pada Yang Terpercaya

Menjelang wafat, Abu Bakr mulai berpikir tentang penggantinya. Sesekali ‘Umar, yang ketika itu menjabat Qadhi, dimintanya untuk menggantikan mengimami shalat, seperti dulu saat Rasulullah sakit dirinyalah yang diminta. Ini seperti sebuah promosi (taqwim) awal. Lalu satu per satu, Abu Bakr bicara pada tokoh-tokoh sahabat.

Bukankah kau lihat ‘Umar seorang yang keras wahai Khallifah Rasulullah?”, kata ‘Abdurrahman ibn ‘Auf ketika mendengar disebutnya nama ‘Umar. “Ya”, kata Abu Bakr. “Tapi tidakkah kau rasakan dia senantiasa mengimbangi posisiku. Jika ia lembut, dia mengeraskan dan meyakinkan. Jika kau keras, dia melunakkan dan menyabarkanku!” ‘Abdurrahman ibn ‘Auf menggangguk.

‘Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, dan hamper semua shahabat yang dihubungi Abu Bakr setuju atas pilihan Sang Khalifah. Hanya Thalhah yang agak keras. “Saat engkau masih berada di tengah kami pun”, katanya, “Kami telah merasakan betapa kerasnya dia. Bagaimana nanti kalau kau sudah menghadap Allah? Apa jawabmu padaNya ketila tergugat telah meninggalkan kaum muslimin pada seorang yang berperangai keras?”

“Dudukkan aku…!Wahai Thalhah apakah engkau sedang menakutiku?”, kata Abu Bakr dengan ekspresi gembira. “Aku bersumpah, demi Allah jika aku menghadap Rabbku, akan kukatakan padaNya bahwa aku telah menetapkan atas makhlukNya seorang pemimpin yang paling kuanggap baik diantara mereka…” Abu Bakr telah memutuskan. Dan didiktekanlah surat wasiatnya pada sekretaris negara, ‘Utsman ibn ‘Affan.

Ketika ‘Umar datang dan sadar apa yang terjadi, dia berseru, “Aku tidak pernah menghajatkan posisi itu!!!” Abu Bakr tersenyum. “Benar saudaraku, tapi posisi itulah yang menghajatkanmu.” Jendela rumah Abu Bakr yang menghadap ke Masjid Nabawi itu terbuat dari tanah. Ke sanalah Abu Bakr beringsut, membukanya dan menghadap khalayak yang menunggu kabar kondisi sakitnya. Setelah salam dan shalawat pada kekasihnya, ia berkata anggun, “Apakah kalian akan menerima dengan lapang dada seorang yang telah kupilih sebagai penggantiku?”

“Ya…!”, jawab khalayak itu.

Setelah menjelaskan sedikit, beliau menyebut nama ‘Umar dan berkata, “Apakah ini cocok untuk kalian?”

Kami setuju!”

“Apakah kalian akan taat dan setia padanya?”

“Ya!”

Maka langit Madinah cerah dengan arakan awan. Semua tahu, ‘Abu Bakr sangat bijak dalam memerintah, dan lebih dari itu, sangat bijak memilih pengganti.

 

‘Utsman : Majelis Syuraa

Setelah tikaman di shubuh itu, ‘Umar harus terbaring. Ummu Kultsum binti ‘Ali tersedu melihat suaminya. “Kasian engkau wahai ‘Umar…!”, ratapnya. Yah, sang istri melihat sendiri, saat ‘Umar diberi minum susu, susu itu mengalir keluar dari luka perutnya. Begitu juga sari buah, luka itu jadi semakin perih.

Tetapi ia telah menunjuk 6 orang anggota Majelis Syuraa yang akan berembug tentang penggantinya. Ia telah merumuskan tatacara pemilihannya, yang bahkan paragraph terakhirnya berbunyi, “Jika prosedur telah ditunaikan dan masih ada yang belum mau menerima keputusan syuraa diantara mereka, maka diijinkan untuk memenggal lehernya.” Seram. Khas ‘Umar. Dan memang begitulah seharusnya demi keutuhan umat.

Abu Thalhah Al Anshary bersama 50 orang bersenjata lengkap sejak hari itu berjaga ketat di kediaman ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anha yang bersahaja. Di dalam sana, Thalhah telah memberikan suaranya untuk ‘Utsman, Az Zubair memberikan suaranya untuk ‘Ali, dan Sa’d ibn Abi Waqqash memberikan suaranya untuk ‘Abduraahman ibn ‘Auf. ‘Abdurrahman berdiri, menyatakan bahwa ia siap memimpin dewan, tapi meninggalkan amanah khalifah sejak awal. Maka diapun memulai tugasnya, berkonsultasi dengan para shahabat, para istri Rasulullah, para pemimpin kabilah, dan yang juga penting, kedua calon. Sementara yang lain dalam karantina, ‘Abdurrahman telah melihat garis besarnya, Bani Hasyim mendukung ‘Ali, sementara Bani ‘Umayyah mendukung ‘Utsman.

Hari itu, Masjid Nabawi penuh sesak. Di Mimbar, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf berdiri diapit ‘Ali dan ‘Utsman. Mula-mula ia berkata sambil mengangkat tangan ‘Ali, “Saya mengambil sumpahmu dengan syarat mengikuti Kitabullah, sunnah RasulNya, dan teladan Abu Bakr serta ‘Umar!”

“Saya akan mengikuti Al Qur’an, Sunnah Nabi, serta jalanku sendiri!”, demikian jawab ‘Ali. Hingga 3 kali.

Lalu ‘Abdurrahman ibn ‘Auf beralih ke ‘Utsman. Diucapkannyalah perkataan yang sama. Dan ‘Utsman di bai’at hari itu juga sebagai Khalifah yang baru. Zaman lalu menyaksikan sebuah pemerintah yang diisi karakter seorang pemalu nan dermawan, kasih sayang.

 

‘Ali : Suara Mayoritas

Hari itu, 24 Juni 656. Lima hari setelah terbunuhnya ‘Utsman secara zhalim. Jalan-jalan Madinah dipenuhi oleh gerombolan manusia, rombongan-rombongan, dari jauh dan dekat yang sulit diperkirakan sikap dan itikadnya. Keluarga ‘Utsman, juga beberapa shahabat yang meyakini telah datangnya masa fitnah seperti Sa’d ibn Bin Waqqash, ‘Abdulllah ibn ‘Umar, dan Usamah ibn Zaid memilih untuk mengungsi ke Mekkah.

Dalam atmosfer yang penuh dengang ketakutan, horor dan tak berlakunya hukum, harus ada satu keberanian puncak untuk segera menata kembali kondisi. Dan untuk keberanian semacam itu, hanya ‘Ali yang punya. Dan itupun terpaksa. Awalnya dia berkata, ada Thalhah dan Az Zubair yang lebih pantas. Tapi desakan suara mayoritas, bahkan tentu saja dari para pemberontak zaman ‘Utsman yang masih berkumpul di Madinah tak memberinya pilihan lain. ‘Ali tahu resikonya. Ini hanya suara mayoritas, yang itupun dominan. ‘Ali tahu resikonya, karena diapun melihat sudah mulai terlihat beberapa sahabat utama abstain. Dan jika api fitnah ditiup lagi, dia merasa bahwa sikap abstain itu juga akan menajdi fitnah. Tapi apa gunanya memaksa? Bukankah nantinya paksaan itu juga jadi fitnah?

‘Ali tahu resiko yang diembannya. Dan ia menerima suara mayoritas itu.

 

Politik Cerdas Raja’ ibn Haiwah, “The Khalifah Maker”

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dibumi. Dan kesudahan yang baik itu, bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Qashash : 83)

Inilah ayat yang berulang-ulangdibaca orang-orang mulia di ranjang kematiannya. ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Azis. Dia memang layak mengabadikan kalimat ini dalam kebekuan lisan yang menggetarkan kata terakhir. Dalam kapasitas sebagai pemimpin dengan berjuta rakyat dan tiga benua, gelinciran sombong dan kerusakan bisa menjadi semudah mengatup buka bibirnya.

Tapi dengan resiko besar itu, dia telah sukses menyelesaikan perhentian sejenaknya di alam fana. Sampai para gembala pun bisa menyaksikan serigala berkawan mesra dengan domba di masa pemerintahannya. Pertanyaannya, siapa yang berperan memasukkannya ke dalam jajaran khilafah, padahal hegemoni keluarga pamannya ‘Abdul Malik ibn Marwan nyaris tak tertembus?

Orang itu, Raja’ ibn Haiwah. Dia, dengan kedekatannya pada Khalifah Sulaiman ibn ‘Abdul Malik berhasil membujuk sang Amirul Mukminin untuk menyerahkan khilafah sepeninggalnya pada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, baru kemudian pada keluarga ‘Abdul Malik yang dikehendakinya. “Inilah yang akan meringankan perhitungan amal baginda di hadapan Allah kelak. Menyerahkan khilafah pada seorang yang adil dan berbudi.”, begitu kata Raja’.

Al khuruuj minal ikhtilaaf mustahab” , kata Imam Asy Syafi’i. Keluar dari polemic itu disukai dan dekat pada sunnah. Karena memang ini sebuah keran yang tiba-tiba terbuka. Dan kini, segala yang pada mulanya terttelikung bebas bergerak mengekspresikan diri. Termasuk da’wah.

Akhirnya, demokrasi bagi da’wah bukanlah sebuah sistem. Atau manhaj kufur yang kita terjebak di lubang gelap jika mengikutinya. Bukan, ia terlalu sederhana untuk disebut sistem. Bagi da’wah, demokrasi hanyalah sebuah medan [ertempuran yang kebetulan dipetakan oleh Barat dan kini dipilih oleh musuh da’wah. Dan da’wah dengan jiwa ksatria sedang berkata, “Pilihlah di manapun tempat kita akan berlaga. Dan dengan ijin Allah, kami pasti akan memenangkannya!”

 

 

***Menata Busana Bertiara/Salsikan Bahwa Aku Seorang Muslim/Salim A Fillah

Iklan

2 Responses to “Suara”


  1. 1 irhabi
    Juni 15, 2011 pukul 3:31 pm

    apakah kalimat ini opini anda atau sebagai kutipan opini orang lain???:

    “Saat ini menjadi penting untuk menggabungkan energi keshalihan sekaligus energi kemaksiatan dalam satu wadah demi dunia yang damai, maju dan beradab.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: